Samarinda – PT Pertamina Persero yang terletak di Jalan Cendana Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) meraih penghargaan atau predikat Hijau oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Pusat.
Hal itu diungkapkan oleh Fuel Terminal Manager PT Pertamina Persero Samarinda, Erik Imam Kasmianto pada awak media beberapa waktu lalu.
Dirinya mengatakan, PT Pertamina Samarinda ditunjuk salah satu kandidat peraih penghargaan oleh KLHK predikat Hijau dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) yang diraih sesuai dengan kelas dan urutannya.
“Kelas paling bawah yaitu biru, biru berarti taat sama peraturan pemerintah, lalu hijau artinya harus ada rasa perduli dengan keanekaragaman hayati,” terangnya.
Sederhananya, sambung Erik, pusat meminta PT Pertamina untuk chalange Hijau, dan untuk mencapai itu ada urutannya atau poin-poin kriteria yang harus dipenuhi.
Dijelaskannya, makna hijau bukan berarti harus memiliki tanaman atau banyak tumbuh-tumbuhan, melainkan rasa taat dengan peraturan lingkungan hidup yang dijalankan dan adanya kontribusi tentang keanekaragaman hayati.
Maka PT Pertamina Samarinda sendiri akan meminta pendapat kepada Wali Kota Samarinda Andi Harun sekaitan ide apakah untuk konservasi hayati tersebut sekaligus nantinya bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
“Konsennya target melakukan konservasi tentang hayati. Kami akan menanyakan kepada Pak Wali Kota kira-kira apa yang harus dikembangkan, misalnya hewan khas di Samarinda,” sebutnya.
Awalnya PT Pertamina berniat akan konservasi Pesut, namun mengingat tempat yang tidak memungkinkan, Wali Kota Samarinda Andi Harun akhirnya meminta untuk dikembangkannya burung Enggang yang masih tergolong langka.
Lanjut dia, berbicara lokasi juga akan berkoordinasi dengan DLH, termasuk kebun raya merupakan satu wilayah yang dilirik.
Sementara, Wali Kota Samarinda Andi Harun mengaku setuju terkait rencana konservasi Pesut, terlebih memang selama ini menjadi ikon Samarinda, namun belakangan malah dialihkan ke Kota Bangun.
“Ya mungkin kesulitan bagi mereka untuk memilih lokasi di Samarinda,” beber Andi Harun.
Dirinya mengungkapkan, pembicaraan yang dilakukan juga mendapati opsi lain, yakni konservasi burung Enggang. Lagi-lagi, dia masih harus berkoordinasi dengan stafnya dalam hal pemilihan hewan yang cocok untuk dikembangkan.

