Setiap pagi, sebelum matahari meninggi dan jalanan Sangatta, Kutai Timur (Kutim) mulai dipenuhi hiruk-pikuk kendaraan, seorang perempuan tua tampak sibuk di tepi Jalan Yos Sudarso.
Namanya Sarinah (85), tubuhnya renta, tapi tangannya tak pernah berhenti bergerak, merapikan botol sirup, menata kelapa muda, menakar gula cair.
Seolah hidupnya telah menjadi satu tarikan napas dengan pekerjaan itu.
30 tahun sudah Sarinah mengais rezeki dari dagangan es campur dan es kelapa.
Ia datang dari Surabaya pada 1995, menumpang harapan di tanah Borneo setelah suaminya meninggal dunia.
Saat itu, ia hanyalah seorang perempuan yang berjuang menumpuk keberanian untuk memulai hidup dari awal.
Tanpa modal besar, tanpa kenalan, hanya tekad yang menuntunnya menembus kerasnya hidup di tanah perantauan.
“Awalnya cuma bantu-bantu saudara jualan,” tuturnya pelan, sambil mengaduk segelas es campur.
“Lama-lama saya buka sendiri, biar bisa mandiri,” kata Sarinah, saat ditemui, Rabu, 19 November 2025.
Gerobak kayu yang kini menemaninya bukan sekadar alat berdagang.
Ia saksi bisu perjalanan panjang seorang perempuan yang menolak menyerah pada usia.
Dari balik roda berkarat itu, Sarinah menyaksikan Sangatta tumbuh dari kota kecil menjadi pusat ekonomi Kutim.
Waktu berjalan, banyak hal berubah, tapi tidak dengan dirinya.
Setiap hari ia tetap datang ke tempat yang sama, menata dagangan dengan ketelitian yang tak pernah pudar.
Sarinah adalah ibu dari lima anak dan nenek bagi sejumlah cucu.
Dari hasil jualan yang tak menentu, kadang Rp100 Ribu, kadang tak sampai, ia menafkahi keluarga dan membantu pendidikan cucu-cucunya.
Ia percaya, pengetahuan adalah satu-satunya bekal yang bisa mengubah nasib.
“Saya nggak mau cucu-cucu saya berhenti sekolah,” katanya.
“Sekolah itu penting. Biar mereka nggak hidup susah kayak saya.”
Dalam keseharian yang tampak biasa, Sarinah menyimpan kisah luar biasa tentang ketekunan dan keikhlasan.
Ia mulai berjualan sejak pagi, menantang terik matahari, kadang bertahan di bawah hujan deras.
Tak ada hari libur. Ia hanya berhenti bila tubuh benar-benar tak kuat lagi.
Namun bahkan dalam keletihan itu, matanya tetap menatap hidup dengan cahaya yang sama: keyakinan bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah.
“Kalau nggak jualan, siapa yang kasih makan anak sama cucu?” ucapnya ringan.
Dalam kalimat sederhana itu, terkandung filosofi hidup yang dalam.
Sarinah tak pernah menunggu belas kasihan.
Ia memilih berbuat, sekecil apa pun, untuk menjaga keberlangsungan hidup keluarganya.
Suaminya, Mokdar, telah lama meninggal.
Kehilangan itu membuatnya sempat limbung, tapi tidak mematahkan semangatnya.
“Dulu kalau capek masih ada yang bantu. Sekarang ya sendiri,” katanya dengan suara nyaris berbisik.
Tak ada nada duka yang berlebihan, hanya keteguhan yang lahir dari penerimaan.
Wajahnya dipenuhi keriput, tangannya gemetar ketika menggenggam sendok serut.
Namun, di balik rapuhnya fisik itu, tersimpan kekuatan yang tak terukur.
Orang-orang di sekitar Yos Sudarso mengenalnya bukan sekadar penjual es campur.
Ia adalah bagian dari kehidupan mereka.
Setiap pagi, anak-anak sekolah menyapanya dengan riang, para pekerja menyempatkan mampir untuk menikmati minumannya, dan warga sekitar memanggilnya “Mbah”.
Bagi mereka, Sarinah bukan hanya pedagang kaki lima, melainkan simbol ketekunan dan ketulusan.
“Kadang sepi, kadang ramai,” katanya sambil tertawa kecil.
“Kalau lagi ramai, bisa buat beli beras lebih.”
Tawa itu ringan, tapi menyimpan lapisan makna: kebahagiaan sederhana dari seorang yang sudah berdamai dengan nasibnya.
Menjelang sore, ketika langit mulai jingga dan jalanan Sangatta perlahan lengang, Sarinah membereskan dagangannya.
Ia menutup botol-botol sirup, menyimpan kelapa muda yang tersisa, lalu duduk sejenak di kursi kecil di samping gerobak.
Pandangannya menatap langit, seolah menakar perjalanan panjang yang telah ia lalui.
Di wajahnya, lelah bercampur damai.
Ia tak menyesali hidup yang keras. Justru dari kerasnya hidup, ia belajar arti sabar dan syukur.
Dalam setiap serutan es yang ia jatuhkan ke mangkuk, dalam setiap tetes sirup yang ia tuang, tersimpan kisah tentang perjuangan, kehilangan, dan kasih sayang yang tak bertepi.
Sarinah mungkin tak akan tercatat dalam sejarah besar pembangunan Sangatta.
Tapi bagi mereka yang mengenalnya, ia adalah bagian dari denyut kehidupan kota itu.
Sosok yang menghadirkan pelajaran tanpa menggurui, bahwa kerja keras tak perlu panggung, dan ketulusan tak butuh tepuk tangan.
Bagi Sarinah, hidup bukan tentang mencari kemewahan, melainkan tentang memberi makna.
Selama tangannya masih sanggup menggenggam sendok serut, selama matanya masih bisa melihat warna-warni sirup di gerobaknya, ia akan terus berjualan.
Karena baginya, setiap hari adalah kesempatan baru untuk bertahan, sekeras bongkahan es yang ia serut, dan semanis sirup merah muda yang ia tuang dalam gelas-gelas pelanggannya.
Ketika malam turun dan jalanan mulai sunyi, gerobak tua itu pun digiring pulang. Es, kelapa, dan botol-botol sirup kembali disimpan untuk esok hari.
Di rumah sederhananya, mungkin Sarinah hanya akan makan sedikit dan beristirahat sejenak.
Tapi di hatinya, tersimpan rasa cukup yang tak bisa dibeli siapa pun. Ia tahu, hidup bukan soal berapa banyak yang dimiliki, melainkan tentang seberapa dalam seseorang mencintai apa yang ia lakukan.
Sarinah, perempuan tua dari Surabaya itu, telah membuktikan bahwa keteguhan bisa hidup bahkan di tubuh yang renta.
Bahwa cinta bisa tumbuh bahkan di tengah kerasnya jalanan. Dan bahwa secangkir es campur di sudut kota kecil bisa menyimpan makna sebesar kehidupan itu sendiri.

