SAMARINDA: Seratus tahun bukanlah usia yang singkat bagi sebuah organisasi keagamaan. Namun bagi Nahdlatul Ulama (NU), satu abad bukan sekadar penanda waktu, melainkan bukti daya hidup sebuah tradisi yang mampu bertahan tanpa kehilangan jati diri. NU tidak sekadar ada, tetapi terus tumbuh, menyesuaikan diri, dan menjawab zaman tanpa tercerabut dari akar.
Didirikan 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) di Surabaya oleh KH Hasyim Asy’ari bersama KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri, NU lahir dari kegelisahan para ulama atas derasnya arus perubahan yang berpotensi mengikis tradisi Islam Nusantara.
Di tengah kolonialisme, modernisme yang serba tergesa dan kelompok umat, NU hadir sebagai penyangga. Menjaga tradisi keilmuan, adab dan kearifan lokal sekaligus membuka ruang dialog dengan realitas baru.
KH Hasyim Asy’ari, Rais Akbar (pemimpin tertinggi) NU, pernah menegaskan agama tidak boleh dipisahkan dari akhlak dan tanggung jawab sosial. Islam, bagi beliau, bukan sekadar ritual, tetapi jalan hidup yang menuntun manusia agar berguna bagi sesama. Pesan ini menjadi fondasi NU sejak awal. Beragama dengan adab, berpikir dengan kebijaksanaan dan bertindak dengan kehati-hatian.
Tradisi yang Bergerak, Bukan Membatu
Salah satu kekuatan NU terletak pada kemampuannya menjaga tradisi tanpa membekukannya. Prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah yang bermakna “memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik” bukan jargon kosong, melainkan pedoman yang diterjemahkan dalam pendidikan, dakwah hingga sikap kebangsaan. NU memelihara yang lama selama ia masih baik, dan mengambil yang baru selama membawa kemaslahatan.
KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal Gus Dur pernah mengatakan NU bukan organisasi yang ingin menyeragamkan umat, melainkan merawat perbedaan agar tetap berada dalam bingkai kemanusiaan. Dari sinilah lahir sikap NU yang inklusif, lentur dan jauh dari kecenderungan menghakimi.
Dalam konteks ini, penting ditegaskan. Ketika ada sikap keras, eksklusif, atau kehilangan adab yang mengatasnamakan NU, itu bukan cerminan jam’iyah. Yang melenceng bukanlah NU, melainkan pribadi yang menyimpang dari nilai dasarnya. Sebab NU sejak awal dibangun di atas keseimbangan antara teks dan konteks, antara iman dan kemanusiaan, antara keyakinan dan kebangsaan.
Pesantren, Jantung Tradisi NU
Pesantren adalah denyut nadi NU. Dari sanalah lahir ulama, pemikir, dan penggerak sosial yang membumikan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Namun pesantren NU tidak berhenti sebagai ruang konservasi masa lalu. Ia terus berinovasi, mencari bentuk pendidikan yang relevan tanpa meninggalkan ruhnya.
Di Tasikmalaya, semangat itu menemukan wujud konkret melalui Pesantren Pramuka Khalifa. Pesantren ini menggabungkan pendidikan kepesantrenan khas NU dengan nilai-nilai kepramukaan sebuah pendekatan yang menunjukkan fleksibilitas NU dalam merespons kebutuhan zaman.
Santri di Pesantren Pramuka Khalifa tetap hidup dalam tradisi pesantren. Mengaji kitab, menjaga adab kepada guru, dan menjalani ritme ibadah yang ketat. Namun bersamaan dengan itu, mereka juga ditempa melalui disiplin, kemandirian, kepemimpinan dan semangat kebangsaan yang menjadi inti Gerakan Pramuka.
Kepramukaan di sini bukan aksesori, melainkan metode pendidikan. Apa yang dalam pesantren dikenal sebagai riyadhah (latihan batin) dan mujahadah (perjuangan diri), dalam pramuka diterjemahkan menjadi latihan ketahanan fisik, mental, dan sosial. Nilai ta’dib pendidikan adab bertemu dengan Dasa Dharma Pramuka yang menekankan kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan dan kepedulian terhadap sesama.
Dua dunia ini tidak dipertentangkan. Justru disatukan dalam satu tujuan. Membentuk manusia yang beriman, berakhlak dan siap hidup di tengah masyarakat. Santri tidak hanya disiapkan untuk menjadi alim, tetapi juga tangguh menghadapi realitas sosial.
NU dan Kebangsaan: Jalan Tengah yang Konsisten
Sejak awal, NU menempatkan kebangsaan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan. Resolusi Jihad 1945 menjadi tonggak sejarah yang menegaskan bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman.
Hingga kini, sikap itu tidak berubah. NU tetap berada di garis tengah menjaga negara tanpa menggadaikan nilai agama, dan menjaga agama tanpa merusak negara.
Dalam perjalanan satu abadnya, NU berkali-kali diuji oleh perubahan politik, sosial dan teknologi. Namun prinsip kehati-hatian selalu menjadi pegangan. NU tidak reaktif, tidak tergesa, dan tidak mudah terseret arus ekstrem. Sikap ini sering kali disalahpahami sebagai lamban. Padahal, di situlah letak kebijaksanaannya.
KH Ahmad Siddiq pernah mengingatkan bahwa agama akan kehilangan wibawanya jika dijadikan alat kepentingan sesaat. NU memilih jalan panjang. Mendidik, merawat, dan menanam nilai meski hasilnya tidak selalu instan.
Tradisi yang Menyapa Masa Depan
Satu abad NU adalah kisah tentang tradisi yang hidup. Ia tidak menua karena tidak membatu. Ia bergerak, beradaptasi dan terus mencari cara paling beradab untuk tetap relevan. Dari forum bahtsul masail hingga pesantren dengan pendekatan baru, dari kitab-kitab hingga pendidikan karakter, NU menunjukkan kesetiaan pada nilai tidak harus berarti penolakan terhadap perubahan.
Pesantren Pramuka Khalifa hanyalah satu contoh kecil dari wajah besar NU hari ini. Islam yang membumi, beradab, dan bersahabat dengan zaman. Santri yang mengaji kitab di pagi hari, lalu belajar kepemimpinan di lapangan sore harinya, adalah gambaran masa depan NU dan Indonesia.
Pada akhirnya, satu abad NU bukan sekadar perayaan usia. Ia adalah penegasan sikap, bahwa tradisi bisa tetap tegak tanpa menjadi kaku, bahwa perubahan bisa disambut tanpa kehilangan arah. Benang merahnya, ketika ada yang menyimpang dari nilai-nilai itu, yang keliru bukanlah NU melainkan kita yang lupa pada jalan yang telah lama ditunjukkan oleh para pendirinya.

