SURABAYA: Memasuki usia satu abad, Nahdlatul Ulama (NU) dinilai tetap relevan sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang menjaga keseimbangan antara nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Di Kalimantan Timur, NU tidak hanya berperan sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai penyangga moderasi dan stabilitas sosial di tengah perubahan zaman.
Sekretaris Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Kalimantan Timur, Sobirin Bagus, menuturkan peringatan satu abad NU memiliki makna historis sekaligus strategis.
Ia menjelaskan, perhitungan usia NU memiliki dua versi, yakni berdasarkan kalender Hijriyah dan Miladiyah.
“Versi Hijriyah sudah dilaksanakan beberapa tahun lalu di Sidoarjo. Sementara versi Miladiyah, NU lahir pada 31 Januari 1926, sehingga tepat 31 Januari 2026 genap 100 tahun,” ujar Sobirin saat ditemui di Surabaya, Kamis, 5 Februari 2026.
Menurutnya, kontribusi NU terhadap Republik Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa.
Sejak sebelum kemerdekaan, NU terlibat aktif dalam perjuangan fisik maupun non-fisik, termasuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“NU bukan organisasi kecil. Kontribusinya terhadap negara sangat besar, mulai dari perjuangan kemerdekaan hingga menjaga keutuhan republik,” katanya.
Sobirin menegaskan, kekuatan utama NU terletak pada karakter moderatnya.
Ia menyebut NU sebagai organisasi Islam yang menjunjung tinggi nilai toleransi, menghormati perbedaan, serta mampu hidup berdampingan dengan kelompok dan agama lain.
“NU mengajarkan Islam yang ramah, moderat, dan menghargai perbedaan. Bahkan perbedaan agama pun dihormati. Ini yang membuat NU menjadi salah satu pilar penting republik,” ujarnya.
Di Kalimantan Timur, lanjut Sobirin, basis gerakan NU sejak awal bertumpu pada pesantren dan pendidikan.
Dua sektor ini dinilai menjadi denyut nadi NU dalam membangun peradaban dan menjaga moral masyarakat.
“Pesantren dan pendidikan adalah fondasi NU. Itu yang akan terus dioptimalkan di Kalimantan Timur,” jelasnya.
Namun demikian, Sobirin menilai NU juga harus melangkah lebih maju dengan merambah sektor-sektor strategis lain, termasuk ekonomi dan bisnis. Menurutnya, NU tidak boleh tertinggal dalam dinamika pembangunan.
“NU harus satu tingkat lebih maju, sejajar dengan organisasi lain. Sekarang NU mulai merambah dunia bisnis, perkebunan, bahkan pertambangan. Bukan untuk mengejar komersial semata, tetapi untuk menopang kemandirian organisasi dan umat,” katanya.
Ia menambahkan, sektor pendidikan dan kesehatan yang selama ini digerakkan NU memang bukan lembaga komersial, tetapi tetap memiliki nilai ekonomi yang dapat dikelola secara profesional untuk mendukung dakwah dan keberlanjutan organisasi.
“Harapannya, NU semakin kuat dan mampu menopang NKRI, bukan hanya dari sisi moral, tapi juga dari sisi ekonomi,” ujarnya.
Dalam refleksi satu abad NU, Sobirin juga menyampaikan pesan khusus bagi generasi muda yang dinilainya rentan tergerus arus zaman dan krisis nilai.
Ia menekankan pentingnya kembali pada prinsip Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai jalan keselamatan umat, sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para sahabat.
“Generasi muda harus mengaji dan mengkaji agama secara mendalam, bukan hanya ikut arus,” tegasnya.
Sobirin menggarisbawahi tiga nilai utama yang diajarkan NU kepada umat. Pertama, tasamuh, yakni sikap toleransi dan menghormati perbedaan di tengah masyarakat.
Kedua, tawazun, yaitu keseimbangan dalam mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kemaslahatan bersama.
Ketiga, tawasuth, sikap moderat dengan mengambil jalan tengah dalam perbedaan.
Ia mencontohkan sikap tawazun dalam sejumlah persoalan sosial-keagamaan yang membutuhkan kebijaksanaan, agar keputusan agama tidak justru menimbulkan mudarat yang lebih besar di masyarakat.
“NU selalu mengambil jalan tengah, tidak ekstrem ke kiri atau ke kanan. Inilah yang membuat NU tetap relevan dari masa ke masa,” ujarnya.
Sobirin menutup dengan menegaskan bahwa satu abad NU bukan sekadar peringatan usia, melainkan momentum untuk memperkuat peran NU sebagai penjaga nilai, penopang persatuan, dan penggerak umat di tengah tantangan zaman.
“Selama NU tetap berpegang pada moderasi, pesantren, dan kepentingan umat, NU tidak akan pernah tua,” pungkasnya.

