SAMARINDA: Kondisi sarana dan prasarana di SDN 012 Lok Bahu, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, kian memprihatinkan akibat banjir yang rutin merendam kawasan sekolah.
Menanggapi situasi tersebut, DPRD bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Samarinda melakukan kunjungan lapangan untuk meninjau langsung usulan revitalisasi dan rehabilitasi bangunan yang dinilai sudah mendesak.
Kepala Sekolah SDN 012 Lok Bahu, Riduannor, menjelaskan peninjauan difokuskan pada kondisi ruang kelas serta lahan di sekitar sekolah yang terdampak genangan.
Ia berharap rencana pembangunan dapat segera direalisasikan karena proses belajar mengajar kerap lumpuh saat banjir datang.
“Harapan kami bisa dibangunkan secepatnya, karena selama ini banjirnya cukup tinggi dan mengganggu proses belajar mengajar,” ujarnya usai peninjauan, Selasa, 3 Maret 2026.
Menurutnya, ketinggian air saat hujan deras bisa mencapai setengah pinggang orang dewasa.
Bahkan, jika dilakukan peninggian bangunan, diperkirakan perlu setidaknya sekitar 1,8 meter dari elevasi tertentu agar benar-benar aman dari genangan.
“Tingginya maksimal itu sampai setengah pinggang orang dewasa. Kalau mau dinaikkan atau ditinggikan sekitar 1 meter 80 senti. Kalau di bawah itu mungkin hanya semata kaki,” jelasnya.
Ia menambahkan, hujan dengan durasi kurang dari satu jam saja sudah cukup membuat halaman sekolah terendam hingga mata kaki.
Kondisi ini tentu berdampak langsung pada kenyamanan dan keselamatan siswa.
Di sisi lain, SDN 012 Lok Bahu juga belum mendapatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah.
Padahal, sejumlah sekolah di sekitar, seperti SMP 25 dan SDN 020 di wilayah Sungai Kunjang, telah lebih dahulu menerima alokasi program tersebut.
Riduannor menyebut pendataan sebenarnya sudah dilakukan sejak awal secara bersamaan. Namun hingga kini, uji coba resmi dari pemerintah belum juga terlaksana di sekolahnya.
Pemberian makanan hanya pernah dilakukan satu kali melalui inisiatif eksternal dari pihak Imigrasi dalam rangka kegiatan syukuran, bukan bagian dari program rutin MBG.
“Kalau harapan kami ya kalau memang ada kan syukur alhamdulillah, artinya sekolah pinggiran lebih diutamakan untuk MBG ini,” ungkapnya.
Meski belakangan muncul isu terkait keamanan pangan dalam program MBG, Riduannor memastikan para orang tua murid di sekolahnya tetap mendukung dan tidak ada penolakan.
Saat ini, sebanyak 178 siswa SDN 012 Lok Bahu menantikan kepastian kapan mereka bisa merasakan fasilitas penunjang gizi tersebut, sembari berharap perbaikan infrastruktur sekolah segera terealisasi agar aktivitas belajar tidak lagi terganggu banjir.

