SAMARINDA: Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) memastikan banjir yang melanda wilayah Segah dan Kelay di Kabupaten Berau telah tertangani sepenuhnya.

Seluruh warga yang sebelumnya mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing, dan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, usai Apel Siaga dan Simulasi Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi di Samarinda, Kamis, 11 Desember 2025.
“Semua sudah tertangani saat ini. Di Wahau sudah surut, di Segah dan Kelay juga sudah aman. Total sekitar 451 jiwa terdampak sudah dievakuasi dan tidak ada korban jiwa,” tegas Seno.
Menurutnya, respons cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim bersama BPBD Berau, TNI, Polri, dan perangkat kecamatan menjadi kunci penanganan banjir di wilayah tersebut.
Sejak awal kejadian, posko terpusat langsung diaktifkan dan koordinasi lintas sektor berjalan efektif.
Seno menjelaskan, Pemprov Kaltim sudah melakukan koordinasi intensif sejak empat hari lalu ketika banjir mulai melanda wilayah Telen dan Wahau (Kutai Timur), kemudian berlanjut ke Segah dan Kelay (Berau).
“Sejak awal di Telen dan Wahau, kami koordinasikan terus dengan BPBD. Begitu juga ketika banjir meluas ke Segah dan Kelay. Semua tertangani dan warga sudah aman,” ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa seluruh kebutuhan darurat masyarakat mulai dari evakuasi, logistik, hingga pemulihan telah diberikan sesuai standar penanganan bencana.
Dalam kesempatan yang sama, Seno menekankan bahwa simulasi tanggap bencana yang digelar hari ini semakin mempertegas peran BPBD sebagai tulang punggung utama komando lapangan dalam setiap keadaan darurat.
“Dengan simulasi ini, kita memastikan tidak ada kebingungan di lapangan. BPBD adalah sumber komando di semua posko, baru kemudian didistribusikan tugas ke TNI, Polri, Basarnas dan lainnya,” jelasnya.
Ia juga menilai peralatan penanggulangan bencana di Kaltim, mulai dari ekskavator, crane, perahu karet, hingga peralatan evakuasi lainnya, dalam kondisi siap pakai jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Menanggapi isu yang mengaitkan banjir di Muara Wahau dengan aktivitas tambang, Seno menyebut bahwa pola banjir di wilayah itu merupakan kejadian tahunan yang telah terjadi selama puluhan tahun.
“Orang-orang tua di sana mengatakan ini banjir tahunan sejak 20-30 tahun lalu. Artinya tidak ada relasi langsung dengan tambang. Tetapi tetap saja, perusahaan tambang harus bertanggung jawab dan memperbaiki lingkungan,” tegasnya.
Di penghujung pernyataannya, Seno kembali mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat Kaltim memasuki puncak musim hujan dan risiko hidrometeorologi masih tinggi.
“Kita tetap berdoa tidak ada bencana. Tetapi jika terjadi, Kaltim sudah siap menanganinya,” pungkasnya.

