ACEH: RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, memastikan ketersediaan obat-obatan untuk pelayanan instalasi gawat darurat (IGD) dan poli darurat dalam kondisi aman dan mencukupi pascabanjir yang merendam sebagian fasilitas rumah sakit.
Meski sebagian besar stok lama rusak akibat terendam lumpur, bantuan cepat dari berbagai lembaga membuat layanan kesehatan tetap berjalan tanpa gangguan berarti.
Pelaksana pelayanan RS Kementerian Kesehatan Adam Malik, Ade Rachmat Yudiyanto, SpA(K), mengatakan kurang dari 10 persen obat lama dapat diselamatkan karena berisiko terkontaminasi.
“Daripada berisiko, lebih baik dibuang. Kita pakai yang benar-benar aman,” ujarnya, Minggu, 14 Desember 2025.
Untuk memenuhi kebutuhan layanan, RSUD Muda Sedia mendapat dukungan obat-obatan dari RS Kemenkes Adam Malik serta tim Universitas Indonesia (UI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI).
Bantuan tersebut meliputi obat infeksi, analgesik, obat kulit, hingga perbekalan medis dasar yang dibutuhkan dalam penanganan pasien pascabanjir.
Seluruh bantuan obat langsung didistribusikan ke IGD dan poli prioritas.
Tim farmasi RSUD Muda Sedia juga segera melakukan inventarisasi ulang terhadap stok yang masuk guna memastikan pengelolaan berjalan tertib dan aman.
“Dengan pasokan yang tersedia, pelayanan IGD, perawatan inap darurat, dan poli dapat berjalan tanpa gangguan. Tidak ada kasus yang tertunda karena kekurangan obat selama hari pertama,” tutur Ade.
Ia menambahkan, ketersediaan obat saat ini bahkan lebih dari cukup, meski pengelolaan tetap dilakukan secara ketat mengingat situasi darurat masih berlangsung.
Ruang penyimpanan obat sementara juga telah ditata agar distribusi berjalan cepat dan terlindung dari sisa lumpur.
Sementara itu, Direktur RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, dr. Andika Putra, menyampaikan bahwa pemulihan layanan rumah sakit dilakukan secara bertahap dan paralel dengan pengecekan teknis peralatan yang terdampak banjir.
“Tim dari penyedia alat hemodialisis sudah meninjau kondisi peralatan dan akan melakukan pemulihan penuh,” ujarnya.
Selain unit farmasi, layanan cuci darah menjadi prioritas pemulihan karena menyangkut pasien kronis.
Lumpur di ruang farmasi dan hemodialisa telah dibersihkan untuk mempercepat proses pemulihan layanan.
Rumah sakit juga mulai menyiapkan pembukaan kembali ruang operasi dengan dukungan peralatan dari RS Kemenkes Adam Malik.
Unit anestesi turut dipersiapkan agar tindakan bedah dapat kembali dilaksanakan.
Andika menjelaskan, setelah Unit Gawat Darurat berhasil dioperasikan kembali, fokus rumah sakit beralih pada pembersihan ruang operasi dan ruang hemodialisa, kemudian dilanjutkan ke ruang rawat jalan.
“Poli akan kami buka setelah seluruh ruangan selesai dibersihkan,” katanya.
Tahap berikutnya mencakup pemulihan ICU, laboratorium, dan radiologi yang memerlukan waktu lebih lama karena kerusakan alat dan kondisi ruangan yang sebelumnya terendam banjir.
Layanan rawat inap baru akan diaktifkan setelah seluruh fasilitas penunjang siap digunakan.
Menurut dr. Andika, pemulihan UGD saja membutuhkan waktu sekitar lima hari kerja intensif, sehingga pembukaan layanan lain dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi lapangan.
Upaya pemulihan berjenjang tersebut diharapkan dapat mempercepat normalisasi layanan RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang agar kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat pascabanjir tetap terpenuhi.

