SAMARINDA: Pergantian tahun hampir selalu dirayakan dengan cara yang sama: kembang api, hitung mundur dan harapan baru yang diucapkan serempak.
Namun, di balik euforia itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: siapa saja yang benar-benar ikut melangkah ke depan ketika tahun berganti?
Bagi sebagian warga Samarinda, 2025 bukan sekadar angka yang ditutup kalender.
Ia adalah tahun yang dijalani dengan kerja sunyi, ketidakpastian, dan pilihan-pilihan hidup yang tak pernah masuk laporan capaian.
Tahun 2026 pun mereka sambut bukan terfokus pada resolusi besar, melainkan harapan paling dasar: tetap bertahan, tetap bekerja, dan jika memungkinkan hidup sedikit lebih layak.
Dari serambi masjid, kolong jembatan, lapak kue tradisional, bangku kuliah, hingga jok motor ojek online, lima warga menuturkan refleksi mereka tentang 2025.
Lima kisah ini bukan sekadar potret personal, melainkan cermin tentang bagaimana kebijakan, ekonomi, dan sistem benar-benar dirasakan di tingkat paling nyata: kehidupan sehari-hari.
Marbut dan Pengakuan atas Kerja Sunyi
Di serambi Masjid Fathul Khair, Samarinda, Junaidi (40), marbut yang telah mengabdi selama 13 tahun duduk perlahan usai salat Asar.
Sehari-hari ia membersihkan masjid, merapikan tempat wudu dan memastikan rumah ibadah siap menyambut jemaah.
Hijrah dari Banjarmasin lebih dari satu dekade lalu, Junaidi menemukan jalan hidupnya di masjid.
“Kalau bukan karena Allah, pekerjaan ini berat. Tapi kalau niatnya benar, hati jadi tenang,” ucapnya saat ditanya apa yang menguatkan langkahnya hingga saat ini.
Tahun 2025 menjadi titik balik.
Melalui Program Gratispol, namanya terpilih sebagai penerima Umrah Gratis untuk marbut.
Oktober 2025, ia menjejak Tanah Suci untuk pertama kalinya.
“Biasanya salat menghadap dinding masjid, sekarang langsung ke Ka’bah,” katanya dengan suara bergetar ketika berbicara soal makna paling mendalam di sana.
Ketika tahun berganti, Junaidi tidak sedang menyusun mimpi baru.
Ia justru ingin memastikan hal yang sama tetap bisa ia jaga.
Sebab, bagi Junaidi, perhatian itu terasa langka, karena selama bertahun-tahun para marbut lebih sering bekerja tanpa pernah benar-benar terlihat.
Memasuki 2026, resolusinya sederhana: tetap istiqamah menjaga masjid, menjaga kesehatan, dan berharap perhatian semacam ini tidak berhenti pada satu orang.
“Saya berharap, akan ada kesempatan untuk kembali ke tanah suci. Tentu bersama marbut lainnya yang belum berkesempatan kesana,” katanya penuh harap.
Pengamen dan Hidup Tanpa Jaring Pengaman
Tak semua orang merasakan perubahan sejelas Junaidi. Ahmad Reza, pengamen jalanan asal Banjarmasin, menjalani 2025 dengan gitar dan langkah kaki yang terus berpindah dari satu sudut kota ke sudut lain.
Lebih dari satu dekade ia menggantungkan hidup dari mengamen. Pendapatannya tak pernah pasti.
“Kadang lima ribu, kadang dua puluh ribu. Kalau beruntung bisa seratus,” katanya. Malam tahun baru pun ia lalui dengan tetap bekerja.
Reza tinggal di bawah Jembatan Mahakam. Ia tak banyak menuntut. “Yang penting sehat. Bisa hidup dari hari ke hari,” katanya ketika ditanya apa hal yang paling penting dihidupnya.
Namun pergantian tahun tetap memberinya ruang untuk membayangkan hidup yang tidak selalu ditentukan oleh jalanan.
Resolusinya di 2026 terdengar sederhana, tetapi sarat makna: keluar dari jalanan dan memiliki usaha kecil.
Bagi Reza, hidup layak bukan soal kemewahan, melainkan kesempatan untuk tidak terus bergantung pada belas kasih.
Pedagang Kecil di Tengah Tekanan Harga
Bergeser ke Jalan Biawan, Kelurahan Sidomulyo, Ani (47) menata kue-kue tradisional khas Samarinda.
Lebih dari dua dekade ia berjualan, membesarkan tiga anak dari lapak sederhana.
Namun 2025 menjadi tahun yang berat. Harga bahan baku naik, pembeli berkurang.
“Yang biasanya empat kotak, sekarang jadi tiga,” katanya.
Bahkan, Ia memilih menahan harga, meski keuntungan menipis, karena tahu pembelinya juga sedang berjuang. Jika dagangan tak habis, kue dibagikan.
“Daripada dibuang, lebih baik dibagi,” ujarnya.
Saat kalender berganti, Ani tidak berharap keajaiban. Ia hanya ingin ruang bernapas yang sedikit lebih longgar.
Resolusi Ani di 2026 tak muluk. Jualan lancar, bahan baku lebih stabil, dan pedagang kecil tetap punya ruang hidup.
Di balik lapaknya, Ani menunjukkan satu hal: ketahanan ekonomi kecil sering kali bertumpu pada kompromi dan keikhlasan, bukan keuntungan besar.
Pendidikan sebagai Jalan Mobilitas
Bergerak ke bangku kuliah, Naila Hajrianti, 2025 hampir menjadi tahun berhentinya mimpi. Tekanan ekonomi keluarga nyaris memaksanya berhenti melanjutkan pendidikan setelah SMA.
Program Gratispol Pendidikan mengubah arah hidupnya. Kini ia menjadi mahasiswi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) di UINSI. “Kalau tidak ada Gratispol, mungkin saya tidak kuliah sekarang,” ujarnya.
Meski sempat terkendala pendaftaran karena keterbatasan akses gawai di pondok pesantren, Naila bertahan. Tahun baru baginya bukan sekadar pergantian angka, melainkan pengingat atas tanggung jawab yang ikut menyertainya.
Memasuki 2026, resolusinya jelas, menyelesaikan kuliah dan mengabdi di Kalimantan Timur. Baginya, pendidikan bukan hanya tentang gelar, tetapi peluang untuk mengubah posisi hidup.
Ojol, Algoritma, dan Ketidakpastian Sistem
Di sektor ekonomi digital, Dwi Setia Kurniawan (49) menjalani 2025 sebagai pengemudi ojek online Maxim. Perantau asal Semarang ini telah hampir 20 tahun tinggal di Samarinda.
Pendapatannya di 2025 meningkat dibanding tahun sebelumnya, namun persaingan kian ketat akibat penambahan driver dan sistem yang sulit diprediksi. Untuk mengejar order, ia kerap menarik hingga Balikpapan dan tidur di atas motor.
“Order sedikit, driver terus nambah,” katanya.
Resolusinya di 2026 bukan semata soal penghasilan lebih besar, melainkan keadilan sistem. Ia berharap ada pengaturan yang lebih berpihak agar kerja keras tidak terus kalah oleh algoritma.
Siapa yang Ikut Melangkah ke Depan?
Lima kisah ini lahir jauh dari ruang laporan dan angka-angka anggaran. Namun justru di sanalah makna kebijakan diuji.
Bagi pemerintah, program adalah perencanaan dan target.
Bagi warga, ia hadir sebagai perjalanan umrah pertama, mimpi kuliah yang terselamatkan, lapak kecil yang tetap bertahan, atau upaya mencari nafkah di tengah sistem yang tak selalu ramah.
Tahun 2025 telah mereka lewati dengan kerja sunyi dan pilihan-pilihan sulit. Tahun 2026 mereka sambut dengan resolusi yang sederhana, tetapi jujur: hidup lebih layak dan masa depan yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh keadaan.
Mungkin yang perlu kita refleksikan bukan hanya tahun yang berganti, tetapi siapa saja yang benar-benar ikut melangkah ke depan ketika kalender berubah.

