SAMARINDA: Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di Indonesia.
Meski dapat dicegah dan disembuhkan, TBC terus menimbulkan tantangan kesehatan, sosial dan ekonomi akibat tingginya penularan serta masih adanya kasus yang belum terdeteksi dan tidak tuntas berobat.

Indonesia saat ini termasuk negara dengan beban TBC tertinggi di dunia bersama India dan China, sehingga percepatan eliminasi TBC menjadi agenda nasional yang tidak bisa ditunda.
Situasi TBC di Indonesia: Angka Masih Tinggi
Berdasarkan laporan nasional dan rujukan global, Indonesia diperkirakan mengalami sekitar 1,09 juta kasus TBC setiap tahun, dengan angka kematian mencapai lebih dari 125 ribu jiwa per tahun.
Angka ini menunjukkan bahwa TBC masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius.
Menurut laporan yang dirujuk World Health Organization dan Kementerian Kesehatan RI, tidak semua kasus TBC berhasil ditemukan dan diobati.
Sekitar 10-15 persen kasus diperkirakan belum terdiagnosis, sehingga berpotensi terus menularkan penyakit di masyarakat.
Pada tahun 2024, Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 880 ribu kasus TBC berhasil ditemukan dan diobati, namun jumlah ini masih di bawah estimasi beban sebenarnya.
Kondisi tersebut mempertegas pentingnya penemuan kasus aktif, skrining kontak, dan penguatan layanan kesehatan primer.
Bagaimana TBC Menular?
TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan menular melalui udara.
Penularan terjadi ketika penderita TBC paru atau TBC laring yang aktif batuk, bersin, berbicara, atau meludah, sehingga mengeluarkan percikan droplet halus yang terhirup orang lain.
Penularan lebih mudah terjadi pada kondisi ruangan tertutup dan ventilasi buru, kontak dekat dan berlangsung lama hingga lingkungan padat penduduk
Kelompok yang berisiko lebih tinggi tertular TBC diantaranya orang yang tinggal serumah dengan penderita TBC, anak-anak dan lansia, penderita HIV, diabetes, atau gizi buruk serta perokok dan mereka yang sering terpapar asap rokok
Tidak semua orang yang terpapar akan langsung sakit. Sebagian mengalami infeksi TBC laten, yaitu bakteri berada dalam tubuh namun belum menimbulkan gejala dan tidak menular.
Infeksi laten dapat berkembang menjadi TBC aktif ketika daya tahan tubuh menurun.
Gejala TBC yang Perlu Diwaspadai
Gejala TBC sering kali muncul perlahan dan kerap diabaikan. Tanda utama yang perlu diwaspadai meliputi:
– Batuk berdahak lebih dari dua minggu
– Batuk disertai darah
– Demam lama atau meriang berkepanjangan
– Keringat malam
– Berat badan turun dan nafsu makan menurun
– Lemas dan nyeri dada
TBC juga dapat menyerang organ lain di luar paru, seperti kelenjar getah bening, tulang, ginjal, hingga otak, dengan gejala yang bervariasi sesuai organ yang terlibat.
Pencegahan TBC: Memutus Rantai Penularan
Upaya pencegahan TBC berfokus pada pemutusan rantai penularan dan peningkatan daya tahan tubuh masyarakat.
Langkah pencegahan utama meliputi:
1. Etika batuk dan penggunaan masker, terutama bagi penderita batuk
2. Ventilasi rumah yang baik dan pencahayaan matahari yang cukup
3. Skrining kontak serumah, khususnya anak-anak dan kelompok berisiko
4. Terapi Pencegahan TBC (TPT) bagi kelompok tertentu sesuai rekomendasi tenaga kesehatan
5. Imunisasi BCG pada bayi untuk mencegah TBC berat
6. Perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk berhenti merokok dan menjaga gizi
Pencegahan berbasis keluarga dan komunitas menjadi strategi penting karena penularan TBC banyak terjadi di lingkungan rumah.
Diagnosis dan Pengobatan: Bisa Sembuh Jika Tuntas
TBC dapat disembuhkan melalui pengobatan teratur dan tuntas sesuai standar medis. Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan dahak, tes cepat molekuler, rontgen dada, serta pemeriksaan pendukung lainnya.
Pengobatan TBC sensitif obat umumnya berlangsung minimal enam bulan, dengan kombinasi beberapa jenis obat. Pasien diwajibkan minum obat setiap hari sesuai jadwal. Ketidakpatuhan berobat dapat menyebabkan kegagalan terapi dan munculnya TBC resistan obat (TB RO) yang jauh lebih sulit dan lama ditangani.
Pengobatan TBC di Indonesia tersedia gratis melalui fasilitas kesehatan pemerintah. Dukungan keluarga, kader kesehatan, dan tenaga medis sangat menentukan keberhasilan pengobatan.
Situasi TBC di Kalimantan Timur: Angka Kematian Masih Tinggi
Di tingkat daerah, Kalimantan Timur (Kaltim) masih menghadapi tantangan serius dalam pengendalian tuberkulosis.
Per Oktober 2025, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur mencatat hampir 300 kasus kematian akibat TBC.
Meski terjadi penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, angka tersebut dinilai masih mengkhawatirkan.
Pada tahun 2024, jumlah kematian akibat TBC di Kaltim bahkan mencapai 454 jiwa. Penurunan angka kematian pada 2025 belum dianggap sebagai kondisi aman, melainkan menjadi alarm keras bahwa penanganan TBC harus dipercepat dan diperkuat.
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, menegaskan bahwa penanggulangan TBC kini menjadi prioritas utama pemerintah daerah, sejalan dengan kebijakan nasional.
“Ini sudah menjadi atensi dari Bapak Presiden terkait penurunan prevalensi sampai 50 persen di akhir tahun 2030. Karena ini menjadi quick win Presiden dan bagian dari grand strategy penanganan tuberkulosis,” ujar Jaya di Samarinda beberapa waktu lalu.
Menurut Jaya, meski angka kematian menunjukkan tren menurun, jumlah korban yang masih ratusan orang setiap tahun menandakan bahwa TBC berpotensi menjadi masalah kesehatan jangka panjang jika tidak ditangani secara serius.
“Tahun lalu bahkan 454 orang meninggal. Ini luar biasa. Kalau kita tidak melakukan upaya serius, TBC bisa menjadi masalah besar di Kaltim hingga beberapa tahun ke depan,” tegasnya.
Regulasi dan Kolaborasi Lintas Sektor
Untuk mempercepat penurunan angka kematian dan penularan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah menyiapkan sejumlah instrumen kebijakan, di antaranya peraturan Gubernur tentang Penanggulangan TBC serta Surat Keputusan Gubernur mengenai pembentukan Tim Percepatan Penurunan TBC.
Tim tersebut bekerja dengan pendekatan pentahelix, melibatkan akademisi, organisasi profesi kesehatan, dunia usaha, media, masyarakat dan komunitas.
“Peraturan gubernurnya sudah ada, begitu juga SK tentang tim percepatan penurunan TBC. Kita melibatkan seluruh stakeholder agar program berjalan efektif,” jelas Jaya.
Pendekatan lintas sektor ini diarahkan untuk memperkuat deteksi dini, memastikan pengobatan tuntas, serta meningkatkan literasi masyarakat terkait bahaya dan penularan TBC, khususnya di wilayah dengan tingkat kasus tinggi.
Menuju Target 2030 dan Indonesia Emas 2045
Seluruh upaya pengendalian TBC di Kalimantan Timur diarahkan untuk mendukung target nasional penurunan prevalensi TBC sebesar 50 persen pada 2030, sebagaimana dicanangkan pemerintah pusat.
“Sebelum menuju Indonesia Emas 2045, kita harus memastikan masyarakat sehat dulu pada 2030. Itu pondasinya,” ujar Jaya.
Dengan penguatan regulasi, sistem pencatatan dan pelaporan, edukasi publik, serta kolaborasi lintas sektor, Pemerintah Provinsi Kaltim optimistis target nasional dapat tercapai.
“Kuncinya adalah kolaborasi dan komitmen. Kalau semua pihak bergerak bersama, saya yakin target penurunan TBC bisa kita capai,” pungkasnya.
TBC masih menjadi ancaman nyata, namun bukan tanpa solusi. Dengan deteksi dini, pencegahan yang konsisten, dan pengobatan tuntas, TBC dapat dikendalikan dan dieliminasi. Peran aktif masyarakat untuk memeriksakan diri, mendukung pasien, dan menjaga lingkungan sehat menjadi fondasi utama Indonesia bebas TBC.

