SAMARINDA : Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus berupaya melakukan percepatan penurunan stunting secara terintegrasi. Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Samarinda, Rinda Wahyuni Andi Harun, mengidentifikasi penyebab terbesar.
Menurutnya, kasus stunting lebih banyak dikarenakan kurangnya pemenuhan gizi orang tua dan anak. Kekurangan gizi tersebut juga tak terlepas dari kurangnya pemahaman orang tua mengenai stunting.
“Stunting itu berasal dari kekurangan gizi. Orang tua tidak tahu pentingnya pemenuhan gizi selama kehamilan,” ungkap Rinda, Senin (13/3/2023)
Selain kurangnya kemampuan finansial orang tua, ketidakpahaman ini juga dilatarbelakangi pendidikan yang rendah. Rinda mengakui, banyak orang tua bahkan tidak pernah mengecap pendidikan.
“Jadi paling banyak masyarakat ke bawah, yang dari segi ekonominya tidak mampu. Mereka tidak tahu menyiapkan kehamilan hingga menyusui. Karena ibu-ibu memiliki pendidikan rendah atau bahkan tidak ada yang sekolah,”ujarnya.
Berbagai program diluncurkan oleh TP PKK. Hal ini dalam upaya untuk mencegah kasus stunting. Diantaranya menggalakkan posyandu. Melalui posyandu, pihaknya bisa memantau gizi anak dengan pemberian protein dan gizi cukup. Seperti, telur, susu formula, atau makanan tambahan.
“PKK memantau jika ada anak terindikasi kurang gizi. Tidak kita diamkan, langsung lakukan edukasi dan bergerak,”terangnya.
Lebih lanjut kata Rinda, kota yang nyaman dihuni warga yang sehat dan memiliki kompetensi untuk mewujudkan impian kota peradaban. Hal ini sesuai dengan visi misi Wali Kota Samarinda menjadikan kota peradaban.
“Sehingga nantinya bisa mengurangi warga yang mengalami stunting dengan melakukan hal-hal terutama dengan perbaikan gizi,” pungkasnya.

