SAMARINDA: Uji coba operasional insinerator di Samarinda saat ini masih berlangsung terbatas dengan kapasitas pengolahan sekitar 4 ton sampah per hari.
Angka tersebut masih jauh dari kapasitas maksimal mesin yang diperkirakan mampu mencapai hingga 100 ton per hari jika sepuluh unit insinerator beroperasi optimal pada Juni mendatang.
Pengawas insinerator, Mustofa menjelaskan bahwa saat ini uji coba pengolahan sampah di Jalan Wanyi baru berasal dari satu tempat penampungan sementara (TPS), yakni di kawasan padat karya.
“Sekarang kita baru ambil dari satu TPS saja. Rata-rata satu TPS itu sekitar empat truk arm roll, ditambah dua dump truck, jadi total sekitar enam angkutan per hari,” ujarnya, Jumat, 10 April 2026.
Ia menyebut, berdasarkan arahan teknis, satu mesin insinerator sebenarnya mampu mengolah sampah hingga 8-10 ton per hari.
Namun karena masih dalam tahap uji coba, kapasitas yang dicapai baru sekitar setengahnya.
“Sekarang masih uji coba, jadi baru sekitar 4 ton per hari,” jelasnya.
Jika seluruh 10 unit insinerator di Samarinda dapat beroperasi penuh, total kapasitas pengolahan sampah diperkirakan mencapai 80 hingga 100 ton per hari.
“Kalau semua berjalan maksimal, bisa sampai 80-100 ton per hari,” katanya.
Dari sisi residu, Mustofa menyebut hasil pembakaran menghasilkan abu yang relatif kecil, hanya sekitar 8-10 persen dari total volume sampah.
“Abunya tidak banyak, sekitar 8 sampai 10 persen. Plastik bahkan hampir tidak menyisakan abu,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui proses pembakaran saat ini belum sepenuhnya optimal, termasuk masih munculnya asap pada tahap awal pembakaran karena operasional masih dalam tahap pembelajaran.
“Kami masih belajar mencari pola pembakaran yang sempurna. Ke depan, kalau sudah optimal, asap akan semakin minim,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pemilahan sampah dari sumber, baik di tingkat rumah tangga maupun TPS, untuk mendukung efisiensi pembakaran.
“Kalau sampah sudah terpilah dan tidak bercampur, hasilnya akan jauh lebih maksimal,” tambahnya.
Sementara itu, terkait pemanfaatan residu, abu hasil pembakaran direncanakan akan diolah menjadi paving block.
Namun untuk pemasarannya masih menunggu kebijakan lanjutan dari pemerintah daerah.
“Untuk pemanfaatannya nanti kemungkinan untuk kebutuhan pembangunan atau fasilitas pemerintah, tapi teknisnya bukan di kami,” ujarnya.

