SAMARINDA: Sebuah sepeda motor terpajang rapi di halaman Masjid Darul Hannan, Jalan M. Yamin, Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Di atasnya tergantung papan keterangan sebagai hadiah Ramadan 1447 Hijriah.

Tak jauh dari kendaraan tersebut, spanduk besar mengumumkan hadiah umrah, uang tunai jutaan rupiah, hingga berbagai doorprize lainnya.
Bagi yang baru melintas, pemandangan ini mungkin terlihat seperti promosi undian biasa.
Namun di masjid tersebut, hadiah-hadiah itu menjadi bagian dari strategi memakmurkan rumah ibadah selama bulan suci.
Program undian berhadiah ini bukan hal baru. Ketua Pengurus Masjid Darul Hannan, H Arbani, mengatakan kegiatan tersebut telah berjalan kurang lebih 16 tahun.
“Kegiatan ini sudah 16 tahun berjalan. Dulu kami lihat, setelah malam ke-10 Ramadan, jemaah mulai berkurang. Kami berpikir bagaimana caranya supaya masjid tetap penuh sampai akhir Ramadan,” ujarnya kepada Narasi.co, Minggu, 22 Februari 2026.
Arbani, yang telah memimpin kepengurusan selama 27 tahun, bercerita bahwa pada 1999 masjid ini awalnya hanya berupa langgar kecil.
Seiring bertambahnya jemaah, pengurus membeli lahan di sekitarnya hingga akhirnya berdiri bangunan masjid seperti sekarang.
Sejak saat itu, pengurus terus mencari cara agar masjid tidak hanya ramai di awal Ramadan, tetapi juga stabil hingga malam ke-29.
Ide pemberian hadiah kepada jemaah pun lahir. Awalnya, hadiah utama berupa dua hingga tiga paket umrah.
Bahkan pada periode tertentu, pernah ada tambahan dukungan dari tokoh daerah yang menyumbangkan paket umrah.
“Dulu sampai tiga orang umrah. Bahkan pernah ada hadiah ibadah haji. Tapi sekarang karena biaya umrah cukup besar, kami kombinasikan dengan sepeda motor dan uang tunai,” jelas Arbani.
Tahun ini, hadiah dibagi dalam beberapa tahap pengundian. Pada malam ke-10 Ramadan, hadiah utama berupa uang tunai Rp5 juta.
Malam ke-20 Ramadan, hadiah Rp7,5 juta ditambah hadiah hiburan. Sementara pada malam ke-29 Ramadan, hadiah puncak berupa satu paket umrah dan satu unit sepeda motor.
Sistemnya sederhana. Setiap jemaah yang mengikuti salat Isya dan Tarawih berjemaah akan menerima satu kupon undian setiap malam.
“Kalau dia salat 10 malam, berarti pegang 10 kupon. Jadi peluangnya lebih besar. Kami bagi tahapannya 1-10, 11-20, dan 21-29,” terang Arbani.
Dengan sistem tersebut, jemaah yang konsisten hadir memiliki kesempatan lebih besar untuk memenangkan hadiah.
Menariknya, seluruh pembiayaan program berasal dari sumbangan jemaah dan donatur selama bulan Ramadan.
Dana yang terkumpul dari kegiatan selawatan dan infak Ramadan digunakan kembali untuk membiayai hadiah, buka puasa bersama, hingga sahur pada sepuluh malam terakhir.
“Uang Ramadan kembali ke Ramadan. Jadi selama ini kami tidak pernah memakai uang kas masjid untuk program ini,” tegasnya.
Menurut Arbani, pendekatan ini terbukti efektif. Sejak malam pertama Ramadan, Masjid Darul Hannan selalu dipenuhi jemaah.
Bahkan pada sepuluh malam terakhir yang biasanya cenderung menurun di sejumlah tempat, suasana di masjid ini tetap ramai.
Arbani menyadari program hadiah ini menjadi magnet tersendiri. Namun ia menekankan bahwa tujuan utamanya tetap untuk mendorong masyarakat meramaikan masjid dan membiasakan diri salat berjemaah.
“Kalau ada yang berharap hadiah, silakan saja. Yang penting dia datang dulu, salat berjemaah dulu. Itu yang utama,” katanya.
Baginya, jika hadiah bisa menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan beribadah dan memakmurkan masjid, maka hal tersebut patut disyukuri.
Di Ramadan tahun ini, kursi-kursi buka puasa telah tertata rapi sejak sore hari.
Panitia sibuk menyiapkan takjil, sementara jemaah berdatangan membawa harapan, sebagian berharap pahala, sebagian mungkin berharap hadiah.
Namun di Masjid Darul Hannan, keduanya berjalan beriringan.
Ramadan bukan sekadar tentang undian dan hadiah, melainkan tentang cara kreatif menjaga agar rumah ibadah tetap hidup hingga malam terakhir.

