SAMARINDA: Di usia 54 tahun, Musrifah tak menyangka perjalanan panjangnya sebagai perajin dan desainer fashion akhirnya tiba pada titik yang selama ini ia nantikan: sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk merek dagang Gilfantee resmi terbit. Kabar itu ia sampaikan dengan mata berbinar.
“Alhamdulillah, terima kasih, akhirnya setelah sekian lama terbit juga,” ucapnya usai menerima sertifikat HKI dari Kementerian Hukum yang diserahkan Pemerintah Kota Samarinda melalui Disporapar Samarinda, di Ballroom Arutala Bapperida, Jumat, 14 November 2025.
Bagi Musrifah, keluarnya sertifikat merek ini lebih dari sekadar legalitas. Ada sejarah panjang yang membuatnya menyebut momen ini sebagai sesuatu yang luar biasa.
Beberapa tahun lalu, ia pernah mengajukan merek dagang serupa.
Namun gagal. Alasannya, nama yang ia ajukan sudah dipakai pihak lain.
“Yang dulu itu pernah saya ajukan, tapi sudah ada yang pakai. Jadi bingung bagaimana caranya brand saya tetap dikenal pelanggan,” kenangnya.
Situasi itu membuatnya harus mencari nama baru. Tantangan berikutnya bagaimana agar pelanggan tetap mengenal produk rancangannya meski merek berganti? Ia tak menyerah. Tahun 2024, ia kembali mencoba mengajukan merek baru yang lebih matang yakni Gilfantee. Dan kali ini, upayanya membuahkan hasil.
Musrifah bukan sekadar perancang busana. Ia adalah desainer yang mengabdikan karyanya untuk mengangkat budaya Kalimantan Timur melalui wastra lokal, termasuk motif batik, tenun, flora, dan fauna khas Bumi Etam.
“Saya kebetulan desainer custom, konsep yang mengangkat budaya Kaltim. Jadi saya memperkenalkan budaya melalui wastra kita sendiri,” jelasnya.
Inspirasi terbesarnya datang dari kekayaan alam Kalimantan Timur. Menurutnya, saat ia mengulik lebih dalam, ia menemukan betapa banyak sumber ide yang bisa diterjemahkan menjadi desain visual yang kuat.
“Keindahan alam Kaltim itu luar biasa. Banyak sumber inspirasi yang sayang kalau tidak diangkat,” tuturnya.
Meski baru memulai karier sebagai fashion designer pada 2016, hobi menjahit sudah melekat padanya sejak lama.
“Dari dulu memang hobi menjahit. Sudah belajar banyak hal yang terkait fashion,” ujarnya.
Proses yang ia jalani untuk mendapatkan sertifikat HKI ternyata tak sesulit yang ia bayangkan. Sejak awal pengajuan pada 2024 hingga terbit, ia mendapat pendampingan dari Disporapar Samarinda mulai dari cara mendaftar, memeriksa kelengkapan, hingga menyelesaikan kendala-kendala teknis.
“Proses sertifikasinya gratis dari awal sampai akhir. Kita dibina bagaimana bisa lolos, bagaimana prosesnya. Pokoknya Alhamdulillah sekali,” ceritanya.
Baginya, pengalaman ini membuktikan bahwa para pelaku ekonomi kreatif sebenarnya bisa mendapatkan perlindungan merek dengan mudah, asal mau memulai.
Kini, Gilfantee tak hanya dikenal di Kalimantan Timur. Pelanggannya tersebar hingga ke berbagai kota di Indonesia melalui media sosial dan e-commerce. Ia juga mendapatkan kesempatan pembinaan dari BUMN hingga Kementerian Ekonomi Kreatif di Jakarta.
Namun, ia mengaku pelanggan terbanyak tetap datang dari tanah kelahirannya, Kaltim.
Di tengah kesibukannya, Musrifah juga aktif mengembangkan komunitas desainer pemula dengan membuka kursus menjahit. Menurutnya, tantangan terbesar dunia kreatif lokal adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Tetapi ia dan komunitasnya berkomitmen mencari solusi bersama.
“Tantangannya ya SDM di Kaltim. Tapi kita cari solusinya. Ada komunitas fashion desainer untuk pemula, pokoknya semua kalangan boleh ikut,” katanya.
Momen bahagia ini tak membuat Musrifah lupa mengajak rekan-rekan pelaku industri kreatif lainnya agar segera mendaftarkan merek dagang mereka.
“Karena kalau tidak, nanti merek kita bisa ditiru. Daftar itu mudah kok, karena ada pendampingan dari nol dan gratis,” pesannya.
Bagi Musrifah, sertifikat HKI Gilfantee bukan sekadar legitimasi. Ini adalah bentuk penghargaan terhadap perjalanan panjang, jatuh bangun, dan dedikasinya menjaga identitas budaya Kaltim lewat wastra. Dan kini, ia akhirnya bisa mengatakan bahwa penantian itu layak.
Gilfantee telah resmi berdiri sebagai merek yang lahir dari keteguhan, kreativitas, dan cinta pada budaya Kalimantan Timur.

