SAMARINDA: Pelajar SMA dan SMK di Samarinda mulai dilibatkan dalam pelatihan kerajinan rotan dan kriya tradisional sebagai upaya menjaga keberlanjutan perajin di Kalimantan Timur.
Program ini digelar Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pelatihan Koperasi di bawah Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kaltim.
Kepala DPPK-UKM Kaltim, Heni Purwaningsih, menyebut pelatihan ditujukan mengenalkan teknik dasar anyaman kepada generasi muda yang dinilai semakin jauh dari proses kerajinan tangan karena keseharian mereka lekat dengan dunia digital.
“Kita punya kekayaan kerajinan kriya yang sangat beragam dan unik. Sayang kalau tidak ada generasi penerusnya. Anak-anak sekarang cenderung berkutat pada dunia digital dan melihat kerajinan hanya dari tampilan, tidak pernah merasakan proses membuatnya,” katanya.
Pelatihan pada Pekan UMKM 6-7 Desember di Halaman Parkir Gelora Karrie Pening itu dirancang singkat agar peserta memahami bahwa pembuatan kerajinan dasar bisa dilakukan tanpa keterampilan khusus.
Setelah minat muncul, peserta akan diarahkan ke tahap lanjutan, termasuk pengembangan desain, ukuran standar, dan teknik produksi.
“Pelatihan singkat ini untuk mengenalkan bahwa membuatnya itu mudah. Jika sudah ada minat, kita dorong untuk pengembangan desain dan standar ukuran produk,” ujarnya.
Pada Pekan UMKM, Wakil Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kaltim Wahyu Hernaningsih Seno menjanjikan pemesanan 500 unit kerajinan rotan dengan harga Rp10.000 per unit sebagai bentuk tantangan untuk pelajar.
UPTD Pelatihan Koperasi akan mengoordinasikan pengerjaan pesanan tersebut dengan melibatkan enam sekolah.
“Tadi ada challenge dari Ibu Wagub, pesan 500 pcs produk rotan. Nanti dikoordinir UPTD untuk melibatkan siswa dari enam SMA/SMK,” jelasnya.
UPTD Pelatihan Koperasi selama ini rutin menerima kunjungan sekolah untuk pelatihan kriya.
Program berlangsung sepanjang tahun dan mencakup pelatihan anyaman manik, rotan, hingga batik, dengan fasilitas workshop yang dimiliki UPTD.
“Sekolah-sekolah memang rutin datang untuk latihan. Kepala UPT Pelatihan Koperasi punya program pelatihan bagi siswa dan mahasiswa,” kata Heni.
Ia menambahkan secara teknis program telah berjalan, tetapi membutuhkan penguatan kolaborasi lintas sektor agar regenerasi perajin berlangsung jangka panjang.
Menurutnya, dukungan desain, pemasaran, dan ruang pamer juga diperlukan agar karya pelajar tidak berhenti pada tahap eksperimen.
“Secara teknis sudah kita koordinasikan. Tinggal bagaimana memperkuat kolaborasi agar program ini lebih kuat ke depan,” tutupnya.

