SAMARINDA: Volume sampah di Samarinda meningkat signifikan usai perayaan Idulfitri.
Lonjakan tersebut tercatat di sejumlah titik tempat pembuangan sementara (TPS) di kota tersebut.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mencatat peningkatan pengangkutan sampah hingga 16 kali dalam sehari di beberapa lokasi.
Pelaksana Tugas Kepala DLH Samarinda, Suwarso, mengatakan peningkatan volume sampah sebenarnya telah diperkirakan sejak awal.
Hal ini karena banyak masyarakat memanfaatkan momen Lebaran untuk membersihkan rumah dan membuang barang yang sudah tidak terpakai.
“Penumpukan memang terjadi dari H-1 sampai H+2 Lebaran. Banyak warga yang mengeluarkan barang lama dari rumah, sehingga volume sampah meningkat,” ujarnya, Senin, 23 Maret 2026.
Ia menjelaskan kondisi paling mencolok terjadi di TPS Lempake.
Pada hari biasa, pengangkutan sampah hanya sekitar empat hingga lima kali sehari.
Namun saat Lebaran, jumlahnya melonjak hingga sekitar 16 kali pengangkutan.
“Biasanya empat sampai lima kali pengangkutan, tapi kemarin bisa sampai sekitar 16 kali. Itu karena sampah yang masuk juga lebih banyak dari biasanya,” jelasnya.
Jenis sampah yang ditemukan tidak hanya sampah rumah tangga biasa.
DLH bahkan menemukan sejumlah barang berukuran besar yang dibuang masyarakat ke TPS.
“Di sana ada koper, lemari, sampai kasur. Padahal barang seperti itu sebenarnya tidak ideal dibuang ke TPS. Harusnya langsung dibawa ke TPA Sambutan,” katanya.
Untuk mengatasi lonjakan tersebut, DLH menerapkan pola kerja mobile dengan menggerakkan tim secara bergantian ke berbagai titik yang mengalami penumpukan sampah.
Sistem ini dinilai lebih efektif karena setelah satu lokasi selesai ditangani, armada langsung berpindah ke titik lain yang membutuhkan penanganan serupa.
“Jadi sifatnya mobile. Setelah selesai di satu titik, langsung bergerak ke titik lain supaya tidak ada penumpukan yang terlalu lama,” terang Suwarso.
Selain mengerahkan armada pengangkut sampah, DLH juga menurunkan alat berat berupa ekskavator untuk membantu proses pemindahan sampah di sejumlah lokasi.
Menurut Suwarso, tanpa bantuan alat berat proses penanganan akan memakan waktu lebih lama karena volume sampah yang cukup besar.
“Kalau hanya mengandalkan tenaga manual tentu berat. Makanya kita turunkan alat berat supaya pengangkutan bisa lebih cepat,” ujarnya.
Meski lonjakan sampah berhasil diatasi, Suwarso tetap mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya, salah satunya dengan memilah sampah sebelum dibuang.
“Kalau dari rumah sudah dipilah, tentu sampah yang masuk ke TPS tidak sebanyak itu,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah sebelumnya juga telah mengeluarkan imbauan mengenai jadwal pembuangan sampah agar pengelolaan sampah di kota tetap berjalan tertib.
Sementara terkait rencana pemanfaatan insinerator, Suwarso menyebut hingga kini fasilitas tersebut belum dioperasikan.
Penggunaannya masih menunggu kesiapan sistem pemilahan sampah agar tidak menimbulkan dampak baru terhadap lingkungan.
“Insinerator belum kita jalankan karena harus didukung pemilahan yang benar. Kalau tidak, justru bisa merusak alat dan menimbulkan masalah lain,” pungkasnya.

