SAMARINDA: Upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) dalam menekan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) menunjukkan hasil positif.
Penggabungan strategi vaksinasi dengan gerakan menutup, menguras dan mendaur ulang (3M) Plus terbukti efektif mengurangi jumlah kasus hingga menjangkau kelompok masyarakat berisiko tinggi.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin, menyampaikan bahwa pendekatan terpadu ini menjadi langkah inovatif dalam menghadapi penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut.
“Pengendalian Dengue tidak bisa mengandalkan satu intervensi saja. Dampak nyata terlihat ketika berbagai upaya dijalankan secara bersamaan, mulai dari 3M Plus hingga vaksinasi,” kata Jaya di Samarinda, Jumat, 28 November 2025.
Gerakan 3M Plus terus menjadi fondasi pencegahan DBD.
Langkah ini merupakan kebiasaan dasar yang wajib dilakukan masyarakat untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk.
Pemerintah kemudian memperkuatnya dengan inovasi vaksinasi dengue, difokuskan pada wilayah dengan tingkat penyebaran tinggi. Pendekatan medis ini dinilai menjadi pelengkap krusial untuk memberikan “perlindungan ganda”.
“Ketika 3M Plus dilakukan rutin, dan vaksinasi diberikan sesuai sasaran, kita lihat risiko menurun drastis,” jelas Jaya.
Kombinasi ini diyakini mampu menciptakan sistem pertahanan yang jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan satu bentuk intervensi.
Berdasarkan laporan, penurunan signifikan sangat terlihat, dari 9.114 kasus di tahun 2024 menjadi 3.647 kasus di tahun 2025.
Data ini menjadi bukti kuat bahwa intervensi kombinasi vaksin dan 3M Plus memberikan dampak nyata.
Tak sampai disitu, terdapat temuan penting, tidak ada satu pun kasus DBD berat yang terjadi pada anak-anak yang sudah menerima vaksin Dengue.
“Anak yang menerima vaksin jauh lebih jarang mengalami gejala berat. Ini fakta yang kami temukan langsung di lapangan,” ungkap Jaya.
Selain itu, jumlah pasien yang harus dirawat di rumah sakit juga menurun di beberapa kabupaten/kota setelah program terpadu diberlakukan.
Program vaksinasi DBD Kaltim berjalan beriringan dengan edukasi publik mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Sosialisasi dilakukan secara masif melalui sekolah, RT, dan kelompok masyarakat agar pemahaman tentang 3M Plus semakin mengakar.
“Kalau masyarakatnya paham dan terlibat aktif, hasilnya jauh lebih baik. Vaksin ini membantu, tapi perilaku hidup bersih tetap yang utama,” kata Jaya.
Dinkes Kaltim menegaskan komitmen untuk terus memperluas penerapan vaksinasi dan memperkuat koordinasi lintas sektor.
Pendekatan terpadu ini diharapkan mampu menciptakan ketahanan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan, terutama menghadapi ancaman siklus tahunan DBD.
“Ini bukan hanya respons jangka pendek. Kita ingin perlindungan yang berkelanjutan bagi masyarakat Kaltim,” tutup Jaya.

