SAMARINDA: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda merespons video viral di media sosial yang menunjukkan kondisi bak truk sampah keropos hingga menyebabkan ceceran sampah di jalanan.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda Muhammad Taufiq Fajar mengakui bahwa sebagian armada yang digunakan saat ini memang sudah berusia tua dan kurang layak operasional.
“Memang ada beberapa truk yang sudah kurang layak, seperti truk produksi tahun 2013 yang sampai sekarang masih digunakan,” ujarnya,” ujarnya diwawancarai media, Kamis, 9 April 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari keterbatasan armada yang dimiliki DLH dibandingkan kebutuhan pelayanan pengangkutan sampah di Kota Samarinda.
Saat ini, DLH memiliki sekitar 71 hingga 73 unit kendaraan pengangkut sampah dengan 83 titik tempat penampungan sementara (TPS) serta sekitar 87 hingga 89 sopir.
“Artinya memang masih ada keterbatasan. Bahkan ada kendaraan yang digunakan oleh dua sopir secara bergantian,” katanya.
Taufiq menjelaskan, meski beberapa kendaraan sudah seharusnya dipensiunkan, DLH tetap mengoperasikannya untuk menjaga layanan kepada masyarakat tetap berjalan.
“Karena keterbatasan, mau tidak mau kendaraan yang seharusnya sudah pensiun tetap digunakan,” jelasnya.
Terkait kondisi bak truk yang keropos, ia menegaskan bahwa setiap kerusakan seharusnya segera dilaporkan agar dapat diperbaiki.
“Kalau ada kerusakan seperti itu harus dilaporkan. Biasanya langsung ditambal atau dilas supaya tidak menyebabkan ceceran sampah di jalan,” ujarnya.
Ia menyebut, proses perbaikan umumnya tidak memakan waktu lama, tergantung antrean di bengkel dan tingkat kerusakan.
“Kalau kerusakannya ringan, beberapa hari sudah selesai,” katanya.
DLH sendiri mengklaim telah melakukan peremajaan armada secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2025, DLH mendapat tambahan 10 unit kendaraan, terdiri dari lima unit arm roll dan lima unit dump truck.
Sementara pada 2024 ditambah delapan unit dan pada 2023 sebanyak 15 unit.
Namun, sempat terjadi kekosongan pengadaan dalam beberapa tahun sehingga regenerasi armada tidak berjalan optimal.
“Kalau setiap tahun ada pengadaan, meskipun sedikit, itu sangat membantu. Jangan sampai terputus,” ujarnya.
Untuk tahun ini, DLH belum dapat memastikan adanya penambahan armada baru karena kebijakan efisiensi anggaran.
“Untuk sementara belum ada penambahan unit, tapi tetap kami upayakan ke depan ada pengadaan rutin,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, DLH mengatur operasional kendaraan tua dengan menempatkannya di jalur yang lebih dekat ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Kendaraan lama kita tempatkan di jalur dekat agar tidak terlalu berat operasionalnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, biaya perawatan kendaraan tua juga cukup tinggi dan menjadi tantangan tersendiri.
“Perbaikan bisa sampai Rp20 juta sampai Rp30 juta, tapi nanti rusak lagi di bagian lain. Itu risiko kendaraan lama,” ujarnya.
DLH berharap ke depan peremajaan armada dapat dilakukan secara konsisten agar pelayanan pengangkutan sampah di Samarinda tetap optimal dan tidak menimbulkan dampak lingkungan di jalanan.

