SAMARINDA: Awal mula lahirnya program Pendidikan Gratispol berangkat dari kegelisahan mendalam Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Seno Aji, terhadap rendahnya akses pendidikan tinggi bagi anak-anak daerah.
Hal itu ia ungkapkan saat menjadi narasumber dalam diskusi publik bertajuk “Tuk Ki Tak Ki Tuk Gratispol Supaya Baik Jalannya” pada HUT ke-4 Arus Bawah di Temindung Creative Hub, Kamis, 20 November 2025.
Menurut Seno, perjalanan panjang menuju kebijakan pendidikan gratis itu dipenuhi ketukan-ketukan kecil dari masyarakat sebuah simbol bahwa aspirasi publik adalah fondasi utama lahirnya Gratispol.
Wagub Seno menjelaskan, jauh sebelum duduk sebagai wakil gubernur, saat masih duduk sebagai wakil rakyat kaltim ia sudah melihat ketimpangan besar antara besarnya anggaran pendidikan daerah dengan minimnya porsi beasiswa bagi mahasiswa.
“Waktu itu anggaran kita besar, meningkat tiap tahun, tapi beasiswa justru kecil sekali,” ujarnya.
Setiap kali turun ke daerah, pola yang sama terus berulang: hanya sebagian kecil anak Kaltim melanjutkan kuliah, dan alasannya hampir selalu karena tidak mampu membayar UKT.
“Bisa kirim anaknya ke Samarinda, tapi mentok di UKT,” kata Seno.
Kondisi tersebut membuatnya berpikir bahwa pemerintah harus hadir lebih kuat, bukan hanya memberikan beasiswa terbatas, tetapi menanggung seluruh biaya UKT mahasiswa Kaltim.
Gagasan itu kemudian ia diskusikan bersama Rudy Mas’ud yang saat itu masih bakal calon gubernur hingga akhirnya diangkat sebagai janji politik. Respons publik, terutama kaum muda, sangat besar.
“Anak muda antusias. Dukungan besar itu jadi energi bagi kami,” ujarnya.
Namun, untuk mewujudkan program tersebut, kerangka hukum harus diubah total.
Pergub Beasiswa lama tak lagi relevan, sehingga disusunlah Pergub Pendidikan Gratis yang memakan waktu empat hingga lima bulan.
Setelah disahkan pada Juli 2025, barulah anggaran perubahan bisa digulirkan.
Tahap awal, Pemprov menyalurkan Rp44 miliar untuk UKT mahasiswa di tujuh perguruan tinggi negeri, disusul sekitar Rp160 miliar yang ditargetkan selesai pencairannya pada November 2025.
Verifikasi data menjadi tantangan terbesar. Meski demikian sekrang sudah sekitar 60-70 persen selesai.
“Kami wajibkan rampung November supaya anggarannya tidak kembali ke negara,” jelasnya.
Mahasiswa yang terlanjur membayar UKT dipastikan mendapat pengembalian langsung ke rekening mereka.
Untuk PTS, verifikasi sudah mencapai 70 persen dan ditargetkan tuntas sebelum akhir bulan.
Menurut Seno, Gratispol bukan proyek jangka pendek, tetapi investasi jangka panjang untuk membangun generasi emas Kaltim yang unggul, berdaya saing, dan mampu memutus rantai kemiskinan.

