BANDUNG: Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Farida Farichah menegaskan pentingnya peran koperasi pondok pesantren (Kopontren) dalam memperkuat ekonomi umat sekaligus menjadi mitra pendamping bagi Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih yang tengah dikembangkan pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Farida saat melakukan kunjungan ke Satuan Pelayanan Pengembangan Generasi (SPPG) Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, Bandung, Jawa Barat, Selasa 30 Desember 2025.
Dalam kunjungan tersebut, Wamenkop juga mengapresiasi kontribusi Ponpes Daarut Tauhiid yang dinilai berhasil mengembangkan unit usaha berbasis koperasi secara berkelanjutan.
“Pesantren selama ini dikenal kuat dalam pendidikan, keagamaan, dan sosial. Namun kami ingin mendorong agar pesantren juga berdaya secara ekonomi melalui unit usaha dan koperasi,” ujar Farida.
Menurutnya, Kopontren memiliki potensi besar untuk menjadi lokomotif ekonomi umat sekaligus berperan sebagai “kakak asuh” bagi Kopdes Merah Putih, khususnya dalam hal pendampingan manajemen usaha, permodalan, dan penguatan jaringan pasar.
Dalam kesempatan tersebut, Farida yang didampingi Direktur Pembiayaan Syariah LPDB Koperasi Ari Permana dan Ketua Kopontren Daarut Tauhiid Alek Kuswandi meninjau sejumlah unit usaha, termasuk sentra oleh-oleh khas Bandung yang dikelola Kopontren Daarut Tauhiid.
Farida mencontohkan keberhasilan pengembangan usaha roti yang dirintis sejak 2019 dengan modal awal Rp150 juta dan melibatkan tenaga profesional.
Usaha tersebut dijalankan melalui kolaborasi antarpesantren, seperti pasokan sayur dari Ponpes Al Ittifaq, penggunaan garam dari Kopontren Sunan Drajat, serta distribusi roti dari Daarut Tauhiid.
Selain itu, unit usaha ritel air minum ringan juga menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan 10 outlet yang tersebar di sejumlah rumah sakit di Bandung.
Total omzetnya mencapai Rp10 miliar per bulan, dengan rata-rata pendapatan Rp20–25 juta per outlet per hari.
“Semua usaha ini berbasis riset pasar dan berbagi pengalaman dengan Kopdes Merah Putih agar bisa direplikasi sesuai karakter daerah,” jelas Farida.
Ia juga mendorong koperasi untuk membangun aset berupa gudang yang dapat dijadikan agunan permodalan.
Menurutnya, cashflow yang sehat akan mempercepat ekspansi usaha, termasuk melalui pendampingan perizinan seperti PIRT dan sertifikasi halal guna memperkuat legalitas produk.
Selain sektor ritel dan pangan, Kopontren Daarut Tauhiid juga mengelola cottage penginapan dengan tingkat okupansi rata-rata 300 orang per malam sebagai sumber pendapatan tambahan.
Program literasi usaha dan gerakan One Pesantren One Produk turut menjadi fokus penguatan ekonomi pesantren.
Farida menambahkan, regenerasi pengelola usaha dilakukan melalui program Pengembangan Usaha dan Kemitraan (PUK) dengan kapasitas hingga 4.000 MBG yang melibatkan santri dan masyarakat umum.
Namun, ia mengakui masih terdapat tantangan, salah satunya kebutuhan jaminan hunian bagi sekitar 1.400 santri.
Wamenkop juga menegaskan bahwa SPPG dikelola oleh anak perusahaan koperasi, sementara koperasi yang sudah mapan didorong untuk mendampingi Kopdes Merah Putih secara penuh, terutama di wilayah perkotaan seperti Bandung.
Pendampingan tersebut akan disesuaikan dengan karakteristik daerah melalui petunjuk pelaksanaan yang fleksibel.
Selain itu, Farida menyebut pengelolaan zakat berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber penguatan modal melalui LPDB untuk mendukung pengembangan koperasi dan UMKM berbasis pesantren.
“Kopontren yang kuat bukan hanya menopang ekonomi pesantren, tetapi juga bisa menjadi penggerak ekonomi umat secara luas,” pungkasnya.

