
Bontang -Sudah lebih dari setahun para tenaga kesehatan (nakes) menjadi pejuang digaris terdepan melawan Covid-19. Tidak terkecuali para nakes di Kota Bontang. Segala upaya telah dikerahkan untuk menahan penyebaran virus ganas ini.
Namun sejak awal tahun 2021 kerja keras serta keringat nakes Bontang tidak seiring dengan penghargaan yakni insentif yang dijanjikan pemerintah hingga kini belum dapat dicairkan.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bontang Andi Faisal Sofyan Hasdam mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang di tahun ini telah melakukan dua kali refocusing dari beberapa pos anggaran seperti dari Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar 8 persen, Dana Insentif Daerah (DID) sebesar 30 persen dan Dana Transfer Umum (DTU) dengan besaran 25 persen, namun refocusing tersebut tidak dialokasikan untuk pemenuhan insentif nakes.
“Saya anggap ini lalai dan ceroboh, karena hal yang paling krusial di masa pandemi salah satunya merupakan insentif nakes. Sebab nakes merupakan ujung tombak pemberantasan Covid-19 yang perlu mendapat dukungan,” ungkap Andi Faizal saat di temui awak media di Sekretariat DPRD kota Bontang, Selasa (13 Juli 2021).
Dirinya mengatakan, pihaknya setelah bersuara serta menjalankan fungsi pengawasan barulah insentif nakes masuk pada refocusing tahap ketiga dengan merefocusing anggaran gaji pegawai negeri sipil (PNS) selama 2 bulan.
“Setelah DPRD bersuara, menjalankan fungsi kontrolnya, melalui Komisi II, serta di tahap pimpinan kita bersuara, barulah akhirnya dimasukkan dalam refocusing tahap tiga dari anggaran gaji PNS selama dua bulan,” tutur Andi Faizal.
Andi Faizal yang merupakan politikus Partai Golkar juga menyayangkan sikap pemerintah yang lamban dalam menyelesaikan persoalan ini.
“Selama ini pemerintah selalu penganggaran gaji PNS 14 bulan jika diambil dua bulan pun tidak masalah.
Namun yang disayangkan kenapa tidak dilakukan dari kemarin-kemarin tunggu ada permasalahan serta didorong dewan baru dicarikan solusinya,” kesal Andi Faiz.

