MAKKAH: Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Hari Arafah, Masjidil Haram di Makkah semakin dipadati jemaah dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Kondisi ini memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di kalangan jemaah.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengimbau seluruh jemaah haji Indonesia agar lebih waspada terhadap ISPA, yang saat ini menjadi keluhan kesehatan paling banyak selama pelaksanaan ibadah haji 2025.
Hingga 21 Mei 2025, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Makkah dan Madinah mencatat 7.957 kasus ISPA. Penyebab utamanya adalah kepadatan ekstrem di area thawaf, sa’i, serta terminal bus, ditambah suhu tinggi yang mencapai 42–46°C.
“Situasi ini menjadi faktor risiko utama penularan penyakit ISPA,” ujar dr. Mohammad Imran, Kepala Bidang Kesehatan PPIH Arab Saudi, dalam konferensi pers di Media Center Haji (MCH), Rabu, 21 Mei 2025.
Imran mengungkapkan, hingga saat ini sudah 125.757 jemaah haji Indonesia tiba di Makkah, dan sekitar 80 persen di antaranya tergolong kelompok risiko tinggi (risti), termasuk lansia dan penderita penyakit penyerta.
ISPA yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi pneumonia, salah satu penyebab utama jemaah harus dirawat di rumah sakit.
Pneumonia bisa menimbulkan komplikasi serius seperti sepsis, kondisi yang dapat mengganggu organ vital seperti paru-paru dan ginjal.
Untuk mencegah risiko kesehatan semakin memburuk, Kemenkes RI memberikan sejumlah imbauan penting, terutama bagi jemaah risti:
Hindari aktivitas berat, seperti umrah sunnah berulang kali.
Batasi kegiatan luar ruangan pada pukul 10.00–16.00 WAS, saat suhu sangat panas.
Konsumsi air putih atau air zamzam secara berkala, minimal 200 ml per jam atau 2 liter per hari.
Gunakan masker saat berada di tempat ramai, apalagi jika mengalami gejala batuk, pilek, atau flu.
“Bila ada keluhan kesehatan, segera hubungi petugas kesehatan kloter atau datang ke pos kesehatan terdekat,” tegas dr. Imran.
Langkah antisipasi ini penting agar jemaah dapat menjalani ibadah dengan aman dan khusyuk, terutama saat menghadapi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

