JAKARTA: Perbankan syariah terus memperkuat perannya sebagai katalis dalam mendukung sektor properti dan ekonomi umat.
Melalui produk pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan, Bank Syariah Indonesia (BSI) berkomitmen mengawal momentum pemulihan sektor properti nasional sesuai prinsip syariah.
Hal tersebut disampaikan Praka Mulia Agung, SVP Consumer Business 1 BSI, dalam Forum Inabanks Investment & Property Outlook: Peluang dan Tantangan Bisnis Tahun 2026, yang digelar pada Rabu, 12 November 2025.
Berdasarkan data Office of Chief Economist BSI, kredit pemilikan rumah (KPR) nasional tumbuh 7,66 persen (YoY) hingga Juni 2025.
Sementara itu, BSI Griya mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni 8,51 persen (YoY).
Dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) hanya 2,10 persen, BSI masuk dalam tiga besar bank nasional dengan kualitas aset KPR terbaik, di tengah tren kenaikan Non-Performing Loan (NPL) di bank konvensional.
BSI kini menempati posisi keenam terbesar secara nasional untuk portofolio KPR, dengan nilai outstanding Rp59,5 triliun per September 2025.
“Kinerja ini menunjukkan daya tahan model pembiayaan syariah terhadap fluktuasi pasar dan tekanan daya beli,” jelas Praka.
BSI terus memperkuat produk unggulannya melalui BSI Griya, yang mencakup beberapa varian:
BSI Griya Sejahtera FLPP, untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan dukungan pemerintah.
BSI Griya Simuda, dengan tenor hingga 30 tahun dan sistem step-up installment.
BSI Griya Takeover dan Refinancing, untuk kebutuhan renovasi dan pembiayaan konsumtif.
Produk tersebut juga dilengkapi berbagai keunggulan, seperti bebas biaya provisi, angsuran tetap hingga lunas, serta hadiah porsi haji/umrah tanpa diundi.
Selain itu, BSI memperluas kolaborasi dengan sejumlah pengembang terkemuka seperti Summarecon, CitraLand, dan Bosowa Bina Insani untuk menghadirkan solusi hunian yang terintegrasi bagi segmen nasabah prioritas, termasuk dokter, guru, dan pelaku usaha.
Praka menambahkan, BSI juga memperkuat ekosistem syariah nasional melalui tiga pilar utama:
Education & Halal Industry, meliputi sekolah Islam, perguruan tinggi, dan lembaga halal.
Umrah, Haji, dan Healthcare, yang berfokus pada layanan perjalanan ibadah dan kesehatan.
Socio-Business & Islamic Organizations, mencakup pesantren, ZISWAF, dan organisasi masyarakat Islam.
“Ke depan, BSI ingin memperluas peran ekosistem syariah, bukan hanya untuk kepemilikan rumah, tetapi juga untuk memperkuat ekonomi umat secara menyeluruh,” pungkas Praka.

