SAMARINDA: Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim), Jaya Mualimin menyebut penghargaan yang diterima Provinsi Kaltim dalam kategori Intervensi Spesifik Penanganan Stunting Terbaik Regional II sebagai kado spesial untuk peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61.
“Ini kado spesial untuk HKN ke-61. Kalimantan Timur mendapat penghargaan dalam bidang intervensi spesifik penurunan angka stunting,” ujar Jaya saat ditemui di Halaman Parkir Gor Kadrie Oening Samarinda, Sabtu, 15 November 2025.
Penghargaan ini diberikan langsung oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin kepada Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud pada puncak HKN 2025 di Kantor Kemenkes RI, Jakarta, 12 November 2025 sebagai apresiasi atas keberhasilan Pemprov Kaltim dalam menurunkan angka stunting melalui berbagai program intervensi spesifik di bidang kesehatan.
Jaya menegaskan bahwa penghargaan ini merupakan hasil kerja keras seluruh pihak, terutama tenaga kesehatan, kader Posyandu, serta dukungan kuat pemerintah provinsi dalam menurunkan angka stunting melalui program intervensi spesifik.
Jaya menjelaskan bahwa capaian ini ditopang oleh pelaksanaan 11 intervensi spesifik yang menjadi indikator nasional dalam penanganan stunting.
Program tersebut meliputi pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri, screening anemia pada remaja putri (rematri), pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil, pemeriksaan kehamilan (ANC) minimal enam kali, pemberian makanan tambahan atau pengobatan gizi buruk untuk ibu hamil KEK, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, pengobatan dan pemberian makanan tambahan untuk anak gizi buruk, vaksinasi lengkap untuk anak-anak, cakupan penimbangan balita di puskesmas yang mencapai lebih dari 90 persen, pemberian vitamin A, dan upaya stop buang air besar sembarangan (stop BABS).
Capaian penghargaan ini tidak lepas dari penurunan prevalensi stunting di Kaltim.
Pada tahun 2023, prevalensi stunting berada di angka 22,9 persen. Setahun kemudian, prevalensinya turun menjadi 22,2 persen, atau terjadi penurunan 0,7 persen.
Meski angka penurunan terlihat kecil, Kemenkes menilai progres Kaltim sangat positif karena dilakukan melalui intervensi yang tepat sasaran dan ditopang penguatan layanan di puskesmas, kader posyandu, serta edukasi berkelanjutan.

