SAMARINDA: Dua siswi kelas XII SMA Negeri 10 Samarinda, Nadine Rangga Priscilia Sampeliling dan Astri Kirana Pramudita, berhasil meraih Juara Pertama Lomba Karya Riset dan Inovasi Pelajar SMA/Sederajat 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kalimantan Timur (Kaltim).

Riset mereka berjudul “Eksplorasi Potensi Senyawa Metabolit pada Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) sebagai Anti Kanker Melanoma Melalui Kajian Bioinformatika dan Molecular Docking” dinilai unggul karena mampu mengidentifikasi potensi senyawa alami lokal Kalimantan sebagai agen antikanker berbasis metode ilmiah modern.
“Kami mulai dari gagasan kecil bahwa Kaltim punya intensitas matahari tinggi karena berada di garis katulistiwa dan kosmetik yang beredar sering menghadapi isu klaim berlebih. Melanoma itu berbahaya meski kasusnya belum banyak dibahas, tapi penyebarannya bisa merusak organ tubuh,” ujar Nadine saat ditemui usai penyerahan penghargaan di Kantor Gubernur Kaltim, Rabu, 10 Desember 2025.
Melanoma sendiri adalah kanker kulit yang menyerang sel penghasil pigmen (melanosit).
Penyebab utamanya adalah paparan sinar ultraviolet (UV) berlebih.
Meski sering berawal sebagai perubahan pada tahi lalat, melanoma dapat menyebar cepat ke organ lain seperti paru-paru dan otak sehingga menjadi salah satu kanker kulit paling mematikan.
Dibalik pemilihan bawang dayak itu sendiri, Nadine memaparkan Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) merupakan tanaman herbal khas Kalimantan yang sudah lama dikenal masyarakat sebagai obat tradisional.
Sejumlah penelitian menunjukkan bawang dayak mengandung senyawa metabolit bioaktif, di antaranya eleutherine, naphthoquinone, eleutherol, isoeleutherin.
Senyawa-senyawa ini diketahui memiliki aktivitas antikanker, termasuk kemampuan menghambat proliferasi sel kanker dan memicu kematian sel kanker (apoptosis) pada uji laboratorium.
“Kajian kami menemukan bahwa senyawa metabolit pada bawang dayak memiliki afinitas kuat untuk menghambat protein target yang terlibat dalam perkembangan melanoma,” jelas Nadine.
Lebih lanjut, Nadine memaparkan terkait metode riset dilakukan menggunakan pendekatan in silico, yakni pemodelan komputer untuk mensimulasikan interaksi molekul obat dengan protein penyebab kanker.
Dua metode utama digunakan:
1. Bioinformatika
Metode ini menganalisis database protein, struktur molekul, dan jalur biologis yang berperan dalam perkembangan melanoma. Tim peneliti memilih protein target yang paling relevan.
2. Molecular Docking
Pada tahap ini, peneliti mensimulasikan “penguncian” senyawa aktif bawang dayak dengan protein target melanoma untuk melihat kekuatan ikatan dan potensi penghambatan sel kanker.
Metode ini diakui secara global sebagai tahap awal riset obat modern, sebelum uji lab dan uji klinis dilakukan.
“Butuh waktu sekitar 3-4 bulan untuk risetnya, namun proses belajar analisis data bioinformatika sudah kami lakukan selama satu tahun,” terang Nadine.
Nadine bersama rekannya Astri, tak menampik jika risetnya tak selalu berjalan mulus.
“Awalnya hasil tidak sesuai hipotesis. Kami harus mencari protein target lain dan menganalisis ulang. Tapi proses ini membuat kami belajar banyak,” kata Nadine.
Nadine berharap, riset tersebut tidak berhenti pada laporan ilmiah, tetapi menjadi produk nyata yang bisa digunakan masyarakat.
“Bawang dayak bisa dikembangkan menjadi bahan aktif kosmetik untuk perlindungan kulit dari risiko melanoma. Kami berharap ada kolaborasi dengan pemerintah, BRIDA, BPOM, dan pihak industri,” ujar Nadine.
Terpisah, Kepala BRIDA Kaltim, Fitriansyah menyampaikan riset ini sesuai dengan arah kebijakan riset daerah, yakni hilirisasi.
“Riset harus berdampak. Tidak hanya menjadi laporan atau prototipe, tapi berkontribusi pada ekonomi dan kesehatan. Kami akan menghubungkan inovasi pelajar dengan mitra industri,” ucapnya.
BRIDA selama ini aktif menggandeng dunia usaha untuk mengembangkan inovasi lokal, termasuk proyek cokelat tengkawang dan kapsul minyak ikan haruan untuk pencegahan stunting.
“Model pendampingan riset seperti yang dilakukan siswi SMAN 10 Samarinda ini sangat potensial untuk dikembangkan. Tentu hasil riset yang ada akan kami kenalkan kepada pemilik usaha agar tidak berhenti disini,” tegasnya.

