SAMARINDA: Prevalensi stunting di wilayah Samarinda Ilir tercatat mencapai 27,1 persen. Berdasarkan data Sistem Informasi Data Gender dan Anak (SIGA) Kalimantan Timur, dari 442 balita usia 0-59 bulan yang diukur di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo, sebanyak 120 anak terindikasi mengalami stunting.
Angka tersebut menunjukkan lebih dari seperempat balita di wilayah itu mengalami gangguan pertumbuhan dan memerlukan perhatian serius.
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, menilai penanganan stunting perlu dipercepat melalui intervensi yang lebih terstruktur hingga tingkat Rukun Tetangga (RT).
Ismail mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Samarinda yang telah menurunkan angka stunting secara umum. Namun, menurutnya, penurunan tersebut masih belum signifikan dan membutuhkan akselerasi.
“Penurunannya memang ada, tetapi masih kecil. Kita perlu percepatan agar target penurunan bisa lebih terasa dampaknya,” ujarnya kepada Narasi.co saat dihubungi, Kamis, 12 Februari 2026.
Menurut Ismail, persoalan stunting kerap berkaitan erat dengan kondisi ekonomi keluarga.
Rendahnya daya beli berdampak pada tidak optimalnya pemenuhan gizi anak, sehingga berisiko memicu stunting kronis.
Karena itu, ia mengusulkan penguatan sistem deteksi dini berbasis RT. Melalui sistem pelaporan berjenjang, potensi risiko dapat diketahui lebih cepat sebelum kondisi anak semakin memburuk.
“Jika di tingkat RT sudah terdeteksi ada keluarga yang berisiko secara ekonomi dan gizi, pemerintah bisa segera melakukan intervensi. Jangan tunggu sampai anak masuk kategori stunting berat,” tegasnya.
Ismail juga menekankan bahwa penanganan stunting tidak dapat dibebankan hanya kepada satu instansi.
Ia mendorong kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), mulai dari dinas kesehatan, dinas sosial, hingga instansi terkait lainnya.
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, ia mengingatkan agar sektor pelayanan dasar tetap menjadi prioritas utama.
“Stunting ini menyangkut masa depan generasi kita. Mengobati itu berat, tapi mencegah jauh lebih mudah. Karena itu intervensi dini berbasis RT harus diperkuat,” pungkasnya.

