SAMARINDA: Tumpukan sampah plastik masih menjadi persoalan di Kompleks Kuburan Muslimin Jalan KH Abul Hasan, Samarinda. Botol bekas air doa, kantong plastik bunga tabur, hingga sisa kemasan minuman terlihat berserakan di antara area pusara, terutama saat musim ziarah.
Kondisi itu dibenarkan Giman (72), pengurus sekaligus penggali kubur senior di lokasi tersebut. Kini, ia mengaku lebih sering membersihkan rumput dan sampah dibanding menggali liang lahat.
“Sekarang jarang gali kubur. Lebih banyak bersih-bersih rumput sama sampah. Kuburannya sudah penuh, banyak yang bertumpuk,” ujarnya saat ditemui, Senin, 16 Februari 2026.
Menurutnya, lahan pemakaman sudah sangat padat. Hampir tidak ada lagi ruang kosong untuk perluasan. Perawatan menjadi satu-satunya cara menjaga area tetap layak.
“Kalau diperluas sudah enggak ada tempat lagi,” katanya.
Giman mengungkapkan, sampah paling banyak berasal dari plastik bunga tabur dan botol bekas minuman yang digunakan untuk wadah air doa.
Meski papan imbauan larangan membuang sampah telah dipasang, sebagian peziarah masih meninggalkan sampah di atas atau di sela-sela makam.
“Sudah ditulis dilarang buang sampah, tapi namanya orang banyak, susah. Botol sama plastik banyak ditinggal,” ujarnya.
Ia mengatakan, sampah biasanya dikumpulkan lalu dibakar jika sudah menumpuk. Pembersihan dilakukan seadanya.
Untuk rumput liar, ia mengandalkan obat pembasmi rumput yang kadang disediakan pengurus.
“Kalau ada obatnya, disemprot. Kalau enggak ya manual. Sampah juga kadang dibakar sore,” katanya.
Meski rutin berada di pemakaman sejak pagi hingga sore, Giman tidak menerima gaji tetap. Ia menyebut aktivitasnya sebagai bentuk pengabdian.
“Enggak ada upah, enggak ada gaji. Ya beramal saja di sini,” ucapnya.
Perantau asal Jawa yang datang ke Samarinda pada 1973 itu kini menetap bersama anak-anaknya.
Penglihatannya mulai terganggu akibat katarak, namun ia tetap datang setiap hari dengan sepeda motor dari rumahnya di kawasan Jalan Rajawali.
“Sudah tua mau kerja apa lagi. Selama masih bisa ya dijalani,” katanya.
Giman berharap kesadaran pengunjung meningkat dalam menjaga kebersihan makam. Ia menilai persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pengurus, tetapi juga pengunjung.
“Kalau orang banyak memang susah, tapi ya jangan ditinggal begitu saja,” ujarnya.
Kepadatan pemakaman dan minimnya tenaga perawatan membuat persoalan sampah menjadi tantangan tersendiri.
Tanpa dukungan kesadaran bersama, area yang seharusnya menjadi tempat peristirahatan terakhir itu rawan tercemar limbah plastik.

