SAMARINDA: Menjelang azan magrib suasana di Masjid Shiratal Mustaqiem Samarinda Seberang tampak semakin ramai.
Sejak pukul 17.00 Wita, sekitar 15 remaja masjid sudah sibuk menata piring dan menyusun hidangan berbuka puasa di dalam masjid yang terletak di Jalan Pangeran Bendahara tersebut.

Satu per satu piring berisi bubur peca khas Samarinda ditata rapi. Setiap jemaah yang hadir mendapatkan satu piring bubur peca lengkap dengan sepotong telur, sepiring kecil kue lumut dan tape ketan, satu buah kurma, air mineral, serta segelas teh susu hangat yang diracik langsung oleh remaja masjid.
Menjelang pukul 17.30 Wita, masyarakat mulai memadati area masjid. Tidak hanya warga Samarinda Seberang, sejumlah pengunjung dari wilayah lain di Kota Samarinda juga tampak datang lebih awal untuk mendapatkan tempat duduk di depan hidangan yang telah tersaji.
Setiap hari, panitia menyiapkan sekitar 300 porsi bubur peca. Menurut Mardiana, juru masak yang akrab disapa Tante Alus, bubur peca dimasak dari 25 kilogram beras setiap harinya.
“Sepuluh kilo biasanya kami bagikan ke warga sekitar, dan 15 kilo untuk berbuka di masjid. Kadang masih kurang karena banyak yang ingin merasakan langsung di sini,” ujarnya kepada narasi.co, Sabtu 21 Januari 2026.
Bubur peca dikenal dengan warna kuning khas dari kunyit dan aroma rempah yang kuat.
Berbeda dengan bubur pada umumnya, bubur peca tidak disajikan dengan kuah. Seluruh bumbu dimasak langsung menyatu dengan beras hingga menghasilkan cita rasa gurih yang kaya.
Campuran bawang merah, bawang putih, jahe, kayu manis, pala, santan, kaldu ayam, serta bumbu kari memberikan sensasi hangat setelah seharian berpuasa.
Tante Alus mengungkapkan, proses memasak bubur ini harus menggunakan kayu bakar.
“Kalau pakai kompor rasanya beda, teksturnya juga beda. Harus kayu bakar supaya keluar aroma asapnya,” jelasnya.
Masjid Shiratal Mustaqiem sendiri merupakan masjid tertua di Samarinda yang dibangun pada 1881.
Tradisi memasak bubur peca setiap Ramadan telah berlangsung turun-temurun dan diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Seluruh bahan baku, mulai dari beras hingga lauk, berasal dari sumbangan masyarakat. Tidak ada anggaran khusus yang dialokasikan. Tradisi ini sepenuhnya berjalan atas dasar gotong royong warga.
Salah satu jemaah, Hayati (38), warga Samarinda Kota, mengaku sengaja datang untuk merasakan tradisi tersebut.
“Saya dengar di sini ada tradisi bubur peca, jadi saya ingin coba dan merasakan suasana bukber di sini. Ini pertama kali saya ikut bukber di sini,” katanya.
Menurutnya, suasana berbuka di Masjid Shiratal Mustaqiem terasa hangat dan berbeda.
“Tradisinya sudah lebih dari 100 tahun tapi masih terjaga. Pengurusnya semangat meneruskan. Tidak semua masjid punya tradisi seperti ini,” ujarnya.
Ia pun mengajak masyarakat yang ingin merasakan suasana berbuka dengan nuansa kampung yang kental untuk datang langsung ke Samarinda Seberang.
“Di sini terasa lebih tradisional. Vibes-nya beda,” tutupnya.
Tradisi bubur peca bukan sekadar hidangan berbuka, melainkan simbol kebersamaan dan warisan kuliner khas Samarinda yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

