SAMARINDA: Ramadan selalu menghadirkan cerita bagi setiap orang, terutama bagi mereka yang menjalaninya jauh dari kampung halaman.
Bagi Nurfaradita yang akrab disapa Dita, bulan suci tahun ini menjadi Ramadan ketiganya di tanah rantau, Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).
Di usia 25 tahun, ia kembali menata rindu dan menjalani puasa tanpa kebersamaan keluarga di Kota Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel).
“Ini sudah ketiga kalinya aku puasa di rantauan. Rasanya tetap campur aduk. Bahagia karena masih diberi umur panjang dan bisa dipertemukan lagi dengan Ramadan. Tapi sedihnya, harus lagi-lagi tanpa masakan bunda,” ujarnya.
Dita datang ke Samarinda untuk bekerja. Tiga tahun terakhir, ia membangun hidup di kota ini.
Setahun belakangan, ia melanjutkan pendidikan Magister (S2) Hukum di Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda.
Di sela kesibukannya sebagai mahasiswa, ia juga dikenal sebagai wartawan muda yang aktif meliput berbagai peristiwa.
Rutinitas kerja dan kuliah membentuk ritme hidupnya yang padat. Ramadan di perantauan pun menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Di Sinjai, Ramadan identik dengan kebersamaan keluarga. Sahur dan berbuka puasa selalu dilakukan bersama.
Meja makan penuh, suara obrolan saling bersahutan, serta kehangatan rumah menjadi kenangan yang selalu ia rindukan.
Berbeda halnya saat berada di Samarinda. Sebagai wartawan muda, waktu Dita kerap dihabiskan untuk liputan.
Tak jarang ia masih berada di lapangan ketika waktu berbuka tiba. Ada kalanya ia berbuka secara sederhana di sela pekerjaan, sekadar membeli air mineral dan makanan cepat saji sebelum kembali melanjutkan tugas.
Karena lelah setelah bekerja, ia lebih sering memilih makanan praktis untuk sahur maupun berbuka.
Salat tarawih pun ia jalani seorang diri. Di tengah jemaah yang datang bersama keluarga atau teman, ia melangkah sendiri.
“Kadang di situ muncul lagi rasa sedihnya,” tuturnya jujur.
Kerinduan itu bukan hanya soal suasana, tetapi juga tentang cita rasa. Ada satu makanan khas Bugis Sinjai yang selalu ia rindukan, yakni laha bete’, masakan rumahan yang biasa dibuat oleh sang bunda.
“Itu khas orang Bugis Sinjai. Di sini nggak ada yang jual. Yang bikin beda sebenarnya orang yang masaknya,” katanya sambil tersenyum tipis.
Untuk persiapan Ramadan, Dita tidak memiliki kebiasaan khusus. Ia tidak menyetok bahan makanan karena lebih sering berada di luar rumah.
Namun, satu hal yang selalu ia lakukan adalah berburu takjil. Ia mengaku termasuk tim pemburu takjil.
Jika sedang bekerja di luar, ia kerap mengunjungi Pasar Ramadan Segiri.
Sementara jika berada di rumah, ia mencari takjil di sekitar tempat tinggalnya.
Di tengah kesibukannya, Dita berusaha menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperdalam ibadah.
“Yang pasti lebih diperdalam lagi ibadahnya dan lebih semangat melakukan kebaikan,” katanya.
Tahun ini, ia sempat berencana pulang sebelum Lebaran. Namun, ia termasuk salah satu yang kehabisan tiket pesawat.
Hingga kini, ia masih mempertimbangkan alternatif lain agar bisa kembali ke Sinjai.
“Kalau aku tidak pulang tahun ini, berarti sudah tiga tahun tidak Lebaran di rumah,” ujarnya lirih.
Bagi Dita, Ramadan di rantau bukan sekadar menahan lapar dan haus.
Ramadan adalah tentang belajar kuat di tengah kesendirian, menata rindu, dan tetap bersyukur atas setiap kesempatan hidup.
Untuk sesama anak rantau yang menjalani puasa jauh dari keluarga, ia berpesan, “Tetap semangat. Semoga selalu dilancarkan hari-harinya, diberi kesehatan, dan suatu saat bisa berkumpul lagi dengan keluarga di kampung”.
Ramadan di rantau memang tak selalu identik dengan meja makan yang penuh atau tawa keluarga yang riuh.
Terkadang ia hadir dalam bentuk kesunyian, langkah kaki sendiri menuju masjid, dan doa-doa panjang di sepertiga malam.
Namun di sanalah, rindu perlahan menemukan jalannya menjadi penguat, bukan pelemah.
Bagi Dita, Samarinda mungkin bukan rumah pertama. Namun di kota inilah ia belajar bahwa iman dan harapan tetap bisa tumbuh, meski jauh dari pelukan bunda dan aroma laha bete’ yang tak tergantikan.

