Close Menu
  • Nasional
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Kesehatan
Copyright PT Media Narasi Indonesia
anggota Jaringan Media Siber Indonesia

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Krisis Tenaga Pendidik Mengancam, Disdikbud Samarinda Prediksi Kekurangan 706 Guru hingga Akhir 2026

Investasi Rp13 Triliun Masuk Mahulu, Gubernur Harum Sebut PLTA Batoq Kelo Jadi Pembangkit Harapan

Masuk SD Tak Wajib Calistung, Sri Puji Astuti Soroti Ketidaksinkronan Kurikulum Dasar

Facebook X (Twitter) Instagram
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Contact
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
Narasi.coNarasi.co
  • Nasional
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Kesehatan
Subscribe
Narasi.coNarasi.co
You are at:Home » Ramadan Ketiga Dita di Samarinda, Wartawan Muda Menata Rindu Jauh dari Keluarga
Samarinda

Ramadan Ketiga Dita di Samarinda, Wartawan Muda Menata Rindu Jauh dari Keluarga
Telah dibaca : 707 Kali.

Ira Nur AjijahBy Ira Nur Ajijah22 Februari 2026Updated:22 Februari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Telegram Email WhatsApp Threads Copy Link
Teks: Nurfaradita, Wartawan Muda sekaligus Mahasiswa S2 Universitas 17 Agustus Samarinda (Narasi.co/Ira)
Share
Facebook Twitter WhatsApp Email Telegram Copy Link

SAMARINDA: Ramadan selalu menghadirkan cerita bagi setiap orang, terutama bagi mereka yang menjalaninya jauh dari kampung halaman.

Bagi Nurfaradita yang akrab disapa Dita, bulan suci tahun ini menjadi Ramadan ketiganya di tanah rantau, Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).

Di usia 25 tahun, ia kembali menata rindu dan menjalani puasa tanpa kebersamaan keluarga di Kota Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel).

“Ini sudah ketiga kalinya aku puasa di rantauan. Rasanya tetap campur aduk. Bahagia karena masih diberi umur panjang dan bisa dipertemukan lagi dengan Ramadan. Tapi sedihnya, harus lagi-lagi tanpa masakan bunda,” ujarnya.

Dita datang ke Samarinda untuk bekerja. Tiga tahun terakhir, ia membangun hidup di kota ini.

Setahun belakangan, ia melanjutkan pendidikan Magister (S2) Hukum di Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda.

Di sela kesibukannya sebagai mahasiswa, ia juga dikenal sebagai wartawan muda yang aktif meliput berbagai peristiwa.

Rutinitas kerja dan kuliah membentuk ritme hidupnya yang padat. Ramadan di perantauan pun menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Di Sinjai, Ramadan identik dengan kebersamaan keluarga. Sahur dan berbuka puasa selalu dilakukan bersama.

Meja makan penuh, suara obrolan saling bersahutan, serta kehangatan rumah menjadi kenangan yang selalu ia rindukan.

Berbeda halnya saat berada di Samarinda. Sebagai wartawan muda, waktu Dita kerap dihabiskan untuk liputan.

Tak jarang ia masih berada di lapangan ketika waktu berbuka tiba. Ada kalanya ia berbuka secara sederhana di sela pekerjaan, sekadar membeli air mineral dan makanan cepat saji sebelum kembali melanjutkan tugas.

Karena lelah setelah bekerja, ia lebih sering memilih makanan praktis untuk sahur maupun berbuka.

Salat tarawih pun ia jalani seorang diri. Di tengah jemaah yang datang bersama keluarga atau teman, ia melangkah sendiri.

“Kadang di situ muncul lagi rasa sedihnya,” tuturnya jujur.

Kerinduan itu bukan hanya soal suasana, tetapi juga tentang cita rasa. Ada satu makanan khas Bugis Sinjai yang selalu ia rindukan, yakni laha bete’, masakan rumahan yang biasa dibuat oleh sang bunda.

“Itu khas orang Bugis Sinjai. Di sini nggak ada yang jual. Yang bikin beda sebenarnya orang yang masaknya,” katanya sambil tersenyum tipis.

Untuk persiapan Ramadan, Dita tidak memiliki kebiasaan khusus. Ia tidak menyetok bahan makanan karena lebih sering berada di luar rumah.

Namun, satu hal yang selalu ia lakukan adalah berburu takjil. Ia mengaku termasuk tim pemburu takjil.

Jika sedang bekerja di luar, ia kerap mengunjungi Pasar Ramadan Segiri.

Sementara jika berada di rumah, ia mencari takjil di sekitar tempat tinggalnya.

Di tengah kesibukannya, Dita berusaha menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperdalam ibadah.

“Yang pasti lebih diperdalam lagi ibadahnya dan lebih semangat melakukan kebaikan,” katanya.

Tahun ini, ia sempat berencana pulang sebelum Lebaran. Namun, ia termasuk salah satu yang kehabisan tiket pesawat.

Hingga kini, ia masih mempertimbangkan alternatif lain agar bisa kembali ke Sinjai.

“Kalau aku tidak pulang tahun ini, berarti sudah tiga tahun tidak Lebaran di rumah,” ujarnya lirih.

Bagi Dita, Ramadan di rantau bukan sekadar menahan lapar dan haus.

Ramadan adalah tentang belajar kuat di tengah kesendirian, menata rindu, dan tetap bersyukur atas setiap kesempatan hidup.

Untuk sesama anak rantau yang menjalani puasa jauh dari keluarga, ia berpesan, “Tetap semangat. Semoga selalu dilancarkan hari-harinya, diberi kesehatan, dan suatu saat bisa berkumpul lagi dengan keluarga di kampung”.

Ramadan di rantau memang tak selalu identik dengan meja makan yang penuh atau tawa keluarga yang riuh.

Terkadang ia hadir dalam bentuk kesunyian, langkah kaki sendiri menuju masjid, dan doa-doa panjang di sepertiga malam.

Namun di sanalah, rindu perlahan menemukan jalannya menjadi penguat, bukan pelemah.

Bagi Dita, Samarinda mungkin bukan rumah pertama. Namun di kota inilah ia belajar bahwa iman dan harapan tetap bisa tumbuh, meski jauh dari pelukan bunda dan aroma laha bete’ yang tak tergantikan.

Mahasiswa Merantau Ramadan 2026 Samarinda Wartawan
Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram Email Threads Copy Link
Previous ArticlePesona Coffee Batal Disegel, Satpol PP Samarinda Tetap Lakukan Pengawasan
Telah dibaca : 735 Kali.
Next Article Pemprov Kaltim Sesuaikan Jam Kerja ASN Selama Ramadan, Terapkan WFA Setiap Jumat
Telah dibaca : 680 Kali.
Ira Nur Ajijah

Related Posts

Tak Sekadar Pakan, Ini Kunci Peternak Samarinda Cetak Sapi Jumbo Kelas Presiden
Telah dibaca : 648 Kali.

24 Mei 2026

Bejo, Sapi Jumbo dari Samarinda Dipilih sebagai Hewan Kurban Bantuan Presiden
Telah dibaca : 657 Kali.

24 Mei 2026

Jelang Hari Raya Iduladha, DKPP Samarinda Pastikan Hewan Kurban Bebas PMK dan LSD
Telah dibaca : 656 Kali.

22 Mei 2026

Comments are closed.

@narasi.co
BERITA TERBARU

Krisis Tenaga Pendidik Mengancam, Disdikbud Samarinda Prediksi Kekurangan 706 Guru hingga Akhir 2026
Telah dibaca : 623 Kali.

Investasi Rp13 Triliun Masuk Mahulu, Gubernur Harum Sebut PLTA Batoq Kelo Jadi Pembangkit Harapan
Telah dibaca : 639 Kali.

Masuk SD Tak Wajib Calistung, Sri Puji Astuti Soroti Ketidaksinkronan Kurikulum Dasar
Telah dibaca : 637 Kali.

DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Sosialisasi SPMB, Orang Tua Siswa Masih Dibayangi Kebingungan
Telah dibaca : 641 Kali.

Event Lari Bergengsi Sekaligus Berderma, Ramaikan Acara Literasi Keuangan
Telah dibaca : 653 Kali.

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Pinterest
Don't Miss
Krisis Tenaga Pendidik Mengancam, Disdikbud Samarinda Prediksi Kekurangan 706 Guru hingga Akhir 2026
Telah dibaca : 623 Kali.
Investasi Rp13 Triliun Masuk Mahulu, Gubernur Harum Sebut PLTA Batoq Kelo Jadi Pembangkit Harapan
Telah dibaca : 639 Kali.
Masuk SD Tak Wajib Calistung, Sri Puji Astuti Soroti Ketidaksinkronan Kurikulum Dasar
Telah dibaca : 637 Kali.
DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Sosialisasi SPMB, Orang Tua Siswa Masih Dibayangi Kebingungan
Telah dibaca : 641 Kali.
Demo
Top Posts

Pengaruh Media Massa Terhadap Integrasi Nasional
Telah dibaca : 4.335 Kali.

8 Maret 20233,833 Views

Pemprov Kaltim Siap Masukkan Mahasiswa UT Samarinda dalam Skema Bantuan Pendidikan Gratispol
Telah dibaca : 5.815 Kali.

2 Juli 20253,465 Views

Peran Pendidikan dalam Mewujudkan Integrasi Nasional
Telah dibaca : 4.999 Kali.

8 Maret 20233,363 Views

Tertarik Berinvestasi di Kaltim, Pengusaha Tiongkok Butuh Lahan 1.000 Hektare
Telah dibaca : 1.074 Kali.

20 Juni 20243,319 Views
Don't Miss
Pendidikan 25 Mei 2026

Krisis Tenaga Pendidik Mengancam, Disdikbud Samarinda Prediksi Kekurangan 706 Guru hingga Akhir 2026
Telah dibaca : 623 Kali.

SAMARINDA: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda memperkirakan kekurangan tenaga guru di Kota Tepian hingga…

Investasi Rp13 Triliun Masuk Mahulu, Gubernur Harum Sebut PLTA Batoq Kelo Jadi Pembangkit Harapan
Telah dibaca : 639 Kali.

Masuk SD Tak Wajib Calistung, Sri Puji Astuti Soroti Ketidaksinkronan Kurikulum Dasar
Telah dibaca : 637 Kali.

DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Sosialisasi SPMB, Orang Tua Siswa Masih Dibayangi Kebingungan
Telah dibaca : 641 Kali.

Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

Demo
© 2026 Narasi.co | PT. Media Narasi Indonesia - Anggota Jaringan Media Siber Indonesia.
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.