Laporan wartawan Narasi.co, Adi Rizki
BONTANG: Deretan rumah kayu yang berdiri di atas laut, jembatan panjang dari kayu ulin, serta perahu nelayan yang hilir mudik menjadi pemandangan pertama yang menyambut pengunjung di Bontang Kuala.

Kawasan yang berada di pesisir Kota Bontang ini dikenal sebagai salah satu desa wisata unik di Kalimantan Timur karena hampir seluruh aktivitas masyarakatnya berlangsung di atas air.
Memasuki gerbang kawasan bertuliskan “Bessai Berinta: Desa Wisata Bontang Kuala”, pengunjung seolah memasuki ruang budaya yang berbeda dari wajah kota industri di sekitarnya.

Bontang Kuala bukan sekadar kawasan permukiman nelayan, tetapi juga menjadi destinasi wisata budaya yang memadukan tradisi maritim, sejarah lokal, dan keindahan alam pesisir.
Bermula dari Semangat “Bessai Berinta”
Secara historis, istilah Bessai Berinta memiliki makna penting bagi masyarakat setempat. Dalam bahasa Bugis, ungkapan tersebut berarti “mendayung bersama”, sebuah filosofi yang mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan warga pesisir.
Sejak dahulu kawasan ini dihuni oleh masyarakat pesisir yang mayoritas berasal dari suku Bugis dan Kutai. Mereka hidup dari aktivitas laut, mulai dari menangkap ikan hingga berdagang hasil laut.
Seiring waktu, perkampungan nelayan tradisional ini berkembang menjadi salah satu ikon wisata Kota Bontang. Meski telah mengalami berbagai perubahan, identitas sebagai kampung air tetap dipertahankan hingga kini.
Rumah-rumah warga masih dibangun di atas tiang-tiang pancang yang tertanam di dasar laut. Struktur tersebut menjadi cara masyarakat beradaptasi dengan kondisi pesisir yang dipengaruhi pasang surut air laut.
Kampung Air dengan Infrastruktur Kayu Ulin
Salah satu daya tarik utama Bontang Kuala adalah infrastruktur jalannya yang unik. Tidak seperti kawasan perkotaan pada umumnya, sebagian besar akses jalan di kampung ini berupa jembatan panjang dari kayu ulin.
Kayu ulin merupakan material khas Kalimantan yang terkenal sangat kuat dan tahan terhadap air laut serta perubahan cuaca. Karena daya tahannya yang tinggi, kayu ini sejak lama digunakan masyarakat pesisir untuk membangun rumah, dermaga, hingga jembatan.
Ketika kendaraan melintas di atas jembatan tersebut, terdengar suara khas kayu yang beradu. Suara “klotok-klotok” itu menjadi ciri unik yang kerap diingat pengunjung yang datang ke kawasan ini.
Selain berfungsi sebagai akses utama, jembatan kayu tersebut juga menjadi ruang sosial masyarakat. Warga sering berkumpul di sepanjang jembatan untuk berbincang, memperbaiki jaring, atau sekadar menikmati pemandangan laut.
Harmoni dengan Ekosistem Mangrove
Selain kehidupan masyarakatnya yang unik, kawasan Bontang Kuala juga dikelilingi oleh hutan mangrove yang cukup lebat. Vegetasi pesisir ini berperan penting sebagai penahan abrasi sekaligus habitat berbagai biota laut.
Keberadaan mangrove tidak hanya berfungsi secara ekologis, tetapi juga menjadi daya tarik wisata alam. Pengunjung dapat menyusuri jembatan kayu di pinggir laut sambil menikmati pemandangan pepohonan mangrove yang hijau.
Ekosistem mangrove tersebut membantu menjaga keseimbangan lingkungan pesisir, sekaligus menjadi bagian dari identitas kawasan wisata ini.
Kehidupan yang Tetap Berlangsung di Atas Laut
Di Bontang Kuala, hampir seluruh fasilitas berdiri di atas laut. Mulai dari rumah warga, masjid, warung makan, hingga tempat usaha kecil masyarakat.
Kehidupan sehari-hari warga sangat dekat dengan laut. Saat air pasang, ombak kecil sering terlihat bergoyang di bawah rumah-rumah panggung. Sementara saat surut, sebagian dasar laut terlihat di sela-sela tiang pancang bangunan.
Suasana ini memberikan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung, seolah merasakan langsung bagaimana kehidupan masyarakat pesisir berlangsung dari waktu ke waktu.
Surga Kuliner Pesisir
Selain dikenal sebagai kampung wisata, Bontang Kuala juga menjadi salah satu destinasi kuliner favorit di Kota Bontang. Berbagai warung makan dan kafe berdiri di sepanjang jembatan kayu yang menghadap langsung ke laut.
Salah satu kuliner yang paling populer adalah Gami Bawis, hidangan ikan bawis yang dimasak dengan sambal khas Bontang dan disajikan dalam kondisi panas di atas cobek tanah liat.
Menu tersebut biasanya menggunakan ikan segar hasil tangkapan nelayan setempat, sehingga cita rasanya sangat khas.
Bagi wisatawan, menikmati hidangan laut sambil memandang hamparan laut lepas menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Salah seorang pengunjung, Rahman, warga Kelurahan Api‑Api, mengaku sering datang ke kawasan tersebut untuk bersantai bersama keluarga.
“Kalau sore ke sini suasananya beda. Anginnya sejuk, bisa lihat laut langsung, dan pemandangan juga bagus. Jadi tempat yang pas untuk santai atau sekadar jalan-jalan,” ujarnya.
Menurutnya, keunikan Bontang Kuala sebagai kampung di atas laut membuat kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan destinasi lain di Kota Bontang.
“Jarang ada tempat seperti ini. Jalan di atas laut, rumah-rumah juga di atas air. Itu yang membuat orang selalu ingin datang lagi,” katanya.
Destinasi Favorit Menikmati Senja
Menjelang sore hari, suasana Bontang Kuala berubah menjadi lebih hidup. Banyak warga dan pengunjung datang untuk menikmati pemandangan matahari terbenam di ujung jembatan.
Lampu-lampu jalan mulai menyala, menciptakan suasana yang hangat dan romantis. Beberapa pengunjung memilih duduk di kafe tepi laut, sementara yang lain berjalan santai di sepanjang jembatan kayu sambil menikmati angin laut.
Pemandangan sunset di kawasan ini menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat wisatawan kembali berkunjung.
Warisan Budaya yang Terus Dijaga
Bontang Kuala tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya masyarakat pesisir di Kota Bontang.
Di tengah perkembangan kota modern, kawasan ini tetap mempertahankan karakter kampung laut yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Keberadaan desa wisata ini juga menjadi contoh bagaimana sebuah permukiman tradisional dapat berkembang menjadi destinasi wisata tanpa kehilangan nilai budaya dan sejarahnya.
Dengan menjaga kebersihan laut, mempertahankan hutan mangrove, serta merawat tradisi masyarakat pesisir, Bontang Kuala terus berdiri sebagai kebanggaan Kota Bontang sekaligus destinasi wisata budaya yang unik di Kalimantan Timur.

