SAMARINDA: Tingkat hunian di HARRIS Hotel Samarinda diprediksi akan mengalami peningkatan pada hari H Idulfitri 1447 Hijriah.
Meski begitu, hingga menjelang Lebaran, okupansi hotel masih belum menunjukkan lonjakan signifikan.

Asisten Marketing & Brand Manager Hotel Harris Samarinda, Nuno, mengatakan kondisi tersebut merupakan tren yang umum terjadi di Samarinda, di mana pemesanan kamar cenderung dilakukan secara mendadak atau last minute.
“Biasanya di Samarinda itu trennya last minute, jadi untuk sekarang memang belum terlalu kelihatan peningkatannya. Tapi kami optimistis akan ramai saat hari H,” ujarnya saat ditemui langsung di Hotel Harris, Jalan Untung Suropati No. 35, Karang Asam Ulu, Samarinda, Rabu, 18 Maret 2026.
Menurutnya, pola tersebut sudah berulang dalam beberapa tahun terakhir, sehingga pihak hotel tetap optimistis menghadapi periode libur Lebaran.
Ia menambahkan, lonjakan hunian biasanya mulai terlihat tepat saat hari raya dan berlanjut hingga masa libur bersama.
Nuno menjelaskan, selama bulan Ramadan tingkat hunian hotel justru mengalami penurunan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
“Kalau di bulan puasa memang occupancy tidak setinggi bulan sebelumnya. Banyak agenda corporate yang berkurang, jadi tingkat hunian juga sedikit menurun, tapi masih dalam batas wajar,” jelasnya.
Meski demikian, aktivitas hotel tetap berjalan melalui berbagai program alternatif, salah satunya layanan buka puasa bersama yang menjadi daya tarik masyarakat.
Ia mengungkapkan, pada puncak Ramadan, Hotel Harris Samarinda mencatat lonjakan pengunjung untuk kegiatan buka puasa bersama hingga lebih dari seribu orang dalam satu hari.
“Di minggu ketiga Ramadan itu puncaknya tanggal 7 Maret. Kami mencatat sekitar 1.160 orang buka puasa bersama dalam satu hari. Semua ruangan terpakai, termasuk Mahakam Ballroom dan ruang meeting,” ungkapnya.
Memasuki periode Idulfitri, pihak hotel memprediksi peningkatan okupansi akan terjadi secara bertahap, dimulai dari hari H Lebaran.
Hal ini didasarkan pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya yang menunjukkan pola serupa.
“Kalau melihat tren tahun lalu, biasanya mulai naik saat hari H. H-3 atau seminggu sebelumnya memang masih belum terasa,” kata Nuno.
Ia juga menambahkan, tingkat hunian diperkirakan tetap tinggi setelah Lebaran, terutama selama masa libur bersama yang dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata atau melakukan perjalanan keluarga.
“Setelah Lebaran biasanya masih tinggi, karena ada long weekend. Banyak yang masih liburan, jadi okupansi masih terjaga,” tambahnya.
Lebih lanjut, Nuno menyebutkan mayoritas tamu yang menginap di Hotel Harris Samarinda selama periode Lebaran berasal dari luar daerah.
Hal ini menunjukkan adanya mobilitas antarwilayah yang cukup tinggi di Kalimantan Timur.
“Segmennya bukan hanya dari Samarinda saja. Biasanya ada tamu dari Balikpapan, Bontang, hingga Sangatta. Jadi memang banyak tamu dari luar daerah,” ujarnya.
Pergerakan tamu antarkota tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong optimisme sektor perhotelan di Samarinda, khususnya pada momen libur panjang seperti Idulfitri.
Berbeda dengan tren kenaikan harga di musim liburan, Hotel Harris Samarinda memilih untuk mempertahankan tarif kamar tetap normal selama periode Lebaran.
Strategi ini dilakukan dengan menambahkan berbagai nilai layanan (value added) bagi tamu.
“Kami tidak menaikkan harga. Tapi kami menambahkan value, seperti memberikan diskon di outlet kopi kami bagi tamu yang menginap,” jelas Nuno.
Selain itu, pihak hotel juga menghadirkan berbagai program dan fasilitas tambahan untuk meningkatkan kenyamanan tamu, khususnya bagi keluarga yang menjadi segmen utama saat Lebaran.

