SAMARINDA: Di sebuah bangunan yang dulunya merupakan toko karpet di Jalan Wahid Hasyim II, Sempaja, Samarinda, seorang pria berusia 42 tahun berdiri di antara puluhan bingkai ilustrasi.
Ia adalah Ramadhan S. Pernyata, pendiri Samarinda Design Hub sekaligus kurator Graphic Memoir Exhibition.
Di balik senyum dan semangatnya mengulas sejarah kota, Ramadhan menyimpan perjuangan hidup yang luar biasa.
“Bukan apa, tapi jantung saya itu fungsinya tinggal 17 persen. Ginjal saya sisa satu dan sudah kronis, terancam cuci darah. Tapi sebelum saya ‘habis’, saya ingin bikin begini-beginian. Seru kan” ujarnya santai saat ditemui di sela pameran, Minggu, 12 April 2026.

Pameran bertajuk “Memoar” ini merupakan gelaran ketujuh yang ia inisiasi sejak 2018. Baginya, pameran ini bukan sekadar pajangan gambar, melainkan sebuah pemberontakan hati.
Sebagai lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pulang ke kampung halaman dua dekade lalu, ia merasa gelisah.
Ia merasa, Samarinda yang mengklaim diri sebagai “Pusat Peradaban” menurutnya minim ruang apresiasi seni visual.
Kondisi ekonomi yang sulit membuat bisnis karpet keluarganya redup. Alih-alih menyerah, Ramadhan justru “menyulap” toko tersebut menjadi galeri desain.
Tanpa sokongan dana pemerintah selama tujuh tahun berjalan, ia konsisten membiayai pameran ini dari kantong pribadi.
“Kenapa saya bikin ini? Karena tidak ada yang bikin. Selama ini di Kaltim yang tenar seni pertunjukan (tari, nyanyi). Sementara budak-budak menggambar seperti kami agak tersisih,” kenangnya.
Dari Sempaja Menuju Leiden
Meski tempat pamerannya sederhana dan berlokasi di dalam hingga teras toko, daya jangkaunya mendunia.
Ramadhan membuktikan bahwa kualitas karya anak muda Samarinda layak bersanding di kancah internasional.
Ia menyebutkan bahwa katalog pameran Samarinda Design Hub kini telah terdaftar dan tersimpan di repositori Leiden University, Belanda, dan Library of Congress, Amerika Serikat.
“Orangnya masih di Sempaja, tapi gambarnya sudah sampai ke Leiden. Kalau mau cek, silakan ketik di Google. Ini bukti bahwa narasi lokal kita tentang nasi kuning, mandai, hingga Sungai Karang Mumus itu punya nilai global,” tegas dosen Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) ini.
Harapan untuk “Kota Pusat Peradaban”
Ramadhan tidak hanya memamerkan kenangan, tapi juga solusi.
Di sudut galeri, berjajar desain-desain futuristik: rombong pentol yang estetis, bis wisata kota, hingga kendaraan amfibi untuk solusi banjir Samarinda.
Namun sayangnya, hingga kini, tumpukan ide dalam katalog tersebut belum ada yang dilirik oleh pembuat kebijakan.
Ia mengaku tantangan terberatnya saat ini bukan lagi soal teknis, melainkan tim yang kecil.
Jika dulu ia bisa mengerahkan mahasiswa, kini ia bergerak bersama empat rekan setianya.
Namun, semangatnya tak surut. Di tengah serbuan teknologi AI, ia tetap mengajak anak muda untuk terus menggambar secara manual.
“Harapan saya, semoga saya semakin sehat dan bisa bikin yang lebih besar lagi. Untuk para kreator, tetap semangat berkarya walaupun AI merajalela,” tutupnya dengan penuh optimisme.
Bagi warga Samarinda yang ingin melihat bagaimana kota ini direkam dalam garis dan warna, pameran Graphic Memoir masih berlangsung hingga 19 April 2026 mendatang.
Sebuah kesempatan untuk melihat Samarinda dari kacamata seorang pejuang yang menolak lupa.

