SAMARINDA: Melalui program penugasan khusus dokter spesialis, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus memperkuat layanan kesehatan di daerah.
Hingga pertengahan 2026, sebanyak 21 dokter spesialis, telah ditempatkan di berbagai kabupaten dan kota untuk mengatasi kekurangan tenaga medis di rumah sakit daerah.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari Program Jospol yang digagas Gubernur Kaltim. Untuk memastikan masyarakat, mendapatkan layanan kesehatan spesialis tanpa harus dirujuk ke kota-kota besar.
“Kita sudah bekerja sama dengan 10 kabupaten dan kota yang mengirim calon-calon dokter spesialis untuk kita buat penugasan khusus. Di Mahulu sudah ada tiga dokter spesialis, yaitu dokter anak, penyakit dalam, dan bedah,” kata Jaya di Kantor Gubernur Kaltim, Senin, 1 Juni 2026.
Untuk menarik minat dokter bertugas di daerah, Pemprov Kaltim menyiapkan insentif khusus yang nilainya disesuaikan dengan tingkat kesulitan wilayah penempatan.
Jaya menjelaskan, insentif yang diberikan berkisar antara Rp17 juta hingga Rp30 juta per bulan. Daerah yang memiliki akses lebih sulit dan masih mengalami kekurangan tenaga kesehatan mendapatkan insentif lebih tinggi.
“Dengan anggaran yang kita siapkan, ada yang menerima hingga Rp30 juta per bulan. Ini sebagai bentuk dukungan agar dokter spesialis bersedia bertugas di daerah-daerah yang membutuhkan,” katanya.
Menurutnya, program ini menjadi solusi pemerataan layanan kesehatan spesialis di Kaltim. Selama ini masyarakat di sejumlah daerah masih, harus menempuh perjalanan jauh ke Samarinda atau kota besar lainnya untuk mendapatkan layanan dokter spesialis.
Selain Mahakam Ulu, penempatan dokter spesialis juga dilakukan di sejumlah daerah lain yang masih membutuhkan tenaga medis.
Di Kabupaten Kutai Barat terdapat dua dokter spesialis, sementara Kabupaten Kutai Timur dan Berau masing-masing menerima enam dokter spesialis.
Kemudian Kabupaten Kutai Kartanegara mendapat dua dokter spesialis, begitu pula Kabupaten Paser yang menerima dua tenaga dokter spesialis melalui program tersebut.
“Secara total ada sekitar 21 dokter spesialis yang sudah kita tempatkan, termasuk di Samarinda untuk memenuhi kebutuhan di rumah sakit milik pemerintah provinsi yang masih kekurangan dokter spesialis,” ujarnya
Melalui penempatan tenaga medis tersebut, diharapkan pelayanan kesehatan rujukan dapat dilakukan lebih dekat dengan masyarakat sehingga penanganan pasien menjadi lebih cepat dan efisien.
Jaya menilai, jumlah dokter spesialis yang telah ditempatkan saat ini sudah cukup memenuhi kebutuhan awal daerah. Ke depan, fokus pemerintah adalah mempertahankan keberlanjutan program hingga 2030 melalui kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota.
“Targetnya sekarang, tinggal mempertahankan. Karena pemenuhan dokter spesialis ini dilakukan bersama pemerintah kabupaten dan kota, bukan hanya oleh provinsi,” pungkasnya.

