SAMARINDA: Udang windu menjadi salah satu komoditas unggulan yang menopang kinerja ekspor sektor kelautan dan perikanan Kalimantan Timur (Kaltim). Komoditas ini mencatatkan volume ekspor 769,9 ton dengan nilai mencapai Rp173,3 miliar.
Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Perikanan, Budidaya, dan Penguatan Daya Saing Produk Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kaltim Heliana mengatakan kinerja ekspor perikanan daerah menunjukkan hasil positif sepanjang 2026.
Pada triwulan I 2026 atau periode Januari hingga Maret, ekspor perikanan Kaltim tercatat mencapai 670,3 ton. Sementara itu, ekspor udang selama Januari hingga Juli 2026 mencapai 1.385,88 ton dengan nilai Rp274,74 miliar.
Adapun pada September 2026, ekspor perikanan Kaltim tercatat sebesar 360,32 ton dengan nilai mencapai Rp65,39 miliar.
“Produk perikanan Kaltim telah menjangkau sekitar 12 negara tujuan ekspor,” ujarnya, di Samarinda, Kamis, 29 Oktober 2026.
Pasar utama yang relatif stabil meliputi Jepang, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Malaysia. Produk perikanan daerah ini juga dipasarkan ke Taiwan, Singapura, Vietnam, Hong Kong, Inggris, Korea Selatan, dan Arab Saudi.
Dari sisi distribusi, konektivitas logistik turut mendukung pengiriman produk perikanan ke pasar internasional. Salah satunya melalui penerbangan kargo langsung dari Balikpapan menuju Wenzhou, Tiongkok, yang beroperasi dua kali dalam sepekan.
Selain udang windu, Kaltim juga memiliki potensi pengembangan komoditas perikanan lain, termasuk ikan kerapu yang banyak dibudidayakan di wilayah Berau.
Pengembangan sektor kelautan dan perikanan turut didukung melalui program Kampung Nelayan yang menjadi bagian dari program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Di Kaltim, tiga lokasi disebut telah masuk dalam program tersebut, yakni Loa Kulu di Kabupaten Kutai Kartanegara, Sepatin di Kabupaten Paser, serta Maratua di Kabupaten Berau.
Heliana menegaskan, Pemerintah Provinsi Kaltim berkomitmen mendukung pengembangan sektor kelautan dan perikanan melalui kolaborasi dengan pelaku usaha, akademisi, kelompok pembudidaya ikan, serta nelayan tangkap.
Menurutnya, koordinasi dan sinergi antarpemangku kepentingan diperlukan untuk memperkuat pembinaan, meningkatkan daya saing produk, serta menampung aspirasi pelaku usaha perikanan di daerah.
“Melalui kolaborasi dan sinergi yang dibangun bersama, kami berharap dapat menumbuhkan sistem ekonomi baru, yaitu ekonomi biru, yang memiliki potensi besar di Kalimantan Timur melalui pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan,” tukasnya.

