Samarinda– Kesadaran masyarakat menjaga area wisata di Kalimantan Timur (Kaltim) agar terhindar dari lingkungan kumuh harus selalu dikedepankan. Salah satunya Taman Tepian Pertama yang terletak di depan Kantor Gubernur Kaltim Jalan Gajah Mada Samarinda.
Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Puji Setyowati menuturkan Taman Tepian memang merupakan ciri khas atau brandingnya Kaltim, Samarinda karena ada sungai yang membentang dan kemudian di tata dan diturap hingga adanya lokus-lokus untuk duduk santai.
Namun diketahui bersama beberapa waktu lalu taman tersebut sempat ditutup Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda akibat maraknya kegiatan para Pedagang Kaki Lima (PKL) hingga pengamen jalanan sehingga hanya menjadi kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Kendati demikian, ada kabar baru bahwa Pemkot Samarinda akan kembali membuka tamannya dengan konsep baru yaitu diperbolehkan adanya aktivitas PKL, namun hanya PKL yang mau mengikuti peraturan seperti halnya menggunakan rombong yang disediakan pemerintah.
“Nah ini kan sempat ditutup dan diubah menjadi RTH dan kini mau dibuka namun konsepnya agak berbeda. Barang kali ini adalah sebuah proses bagaimana mengenalkan masyarakat yang dibarengin dengan edukasi,” kata Puji saat diwawancarai media beberapa waktu lalu.
Karena jika dibuka tanpa edukasi, tidak menutup kemungkinan, lingkungan kumuh dan maraknya pengamen, pasti terjadi.
“Memang dagangan itu milik mereka tetapi maksud pemerintah, bagaimana harus menjaga kebersihan, mematuhi ketentuan untuk tetib. Takutnya begitu dibuka kan masyarakat sendiri yang panggil pentol atau apa, kan jadi kumuh,” tegasnya.
Sebab tidak dipungkiri, pariwisata adalah satu sumber pendapatan untuk Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
“Karena masyarakat yang keluar rumah untuk menikmati udara, tempat di tempat wisata, pasti menikmati kuliner juga, jadi take and give lah. Makanya kalau masyarakat sudah teredukasi dengan baik, pariwisata pasti terus berkembang,” katanya.
Menurut Puji, hal yang dilakukan Pemkot Samarinda merupakan sebuah proses demi menyediakan sarana prasaran untuk masyarakat bersantai bersama keluarga yang nyaman, sehat.
Sehingga perlunya dukungan dari setiap pihak termasuk media masa dalam memberikan edukasi pada masyarakat. Mengambil contoh seperti di daerah Jogja dan Bali yang begitu ramai oleh wisatawan.
“Tentu membangun seperti kawasan ramai wisata namun lingkungan bersih dan bebas pengamen gak mudah, tapi kalau sudah jadi, itu akan manjadi sumber pendapatan baru untuk daerah,” pungkasnya.

