NTT: Setiap kali hujan datang, hunian sementara (Huntara) penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Konga, Kecamatan Titehena, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah menjadi langganan banjir.
Kondisi itu kembali terulang pada Sabtu malam, 31 Januari 2026, ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut dan memaksa puluhan warga mengungsi dari tempat tinggal darurat mereka.
Sedikitnya 22 kepala keluarga, termasuk balita, terpaksa meninggalkan kopel hunian sementara dan menumpang di rumah warga sekitar yang relatif lebih aman.
Air bercampur lumpur masuk ke dalam bangunan, merendam lantai dan perabot seadanya yang dimiliki para penyintas.
Situasi itu mempertegas kerentanan lokasi hunian sementara yang sejak awal dinilai tidak ramah terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Seorang penyintas, Oskar Liwu, mengatakan hujan deras mulai turun sejak sekitar pukul 18.00 Wita dan berlangsung cukup lama hingga menyebabkan air meluap.
“Hujannya sangat deras. Air kembali masuk ke kopel-kopel. Malam ini sebagian warga memilih tidur di hunian tetangga,” ujar Oskar.
Menurut dia, selepas hujan reda, warga langsung membersihkan lumpur yang mengendap di dalam hunian.
Upaya tersebut dilakukan secara mandiri karena hingga kini belum ada penanganan nyata dari pemerintah daerah.
Para penyintas, kata Oskar, masih bertahan di hunian sementara itu sembari menunggu pembangunan hunian tetap yang tak kunjung rampung.
“Setiap hujan turun, banjir selalu berulang. Air pasti menggenangi kopel dan masuk ke dalam rumah,” kata Oskar. Ia menilai kondisi tersebut seharusnya bisa diantisipasi sejak awal, mengingat persoalan serupa telah terjadi berkali-kali.
Padahal, Pemerintah Kabupaten Flores Timur sebelumnya menyatakan telah menyiapkan anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) sebesar Rp6,6 miliar untuk penanganan banjir dan potensi longsor di lokasi Hunian Sementara (Huntara) III dan IV.
Dua lokasi ini ditempati penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang berasal dari Desa Hokeng Jaya, Nawokote, dan Nobo.
Namun, hingga kini, eskalasi banjir di kawasan tersebut terus terjadi setiap kali hujan mengguyur.
Oskar menyayangkan anggaran yang telah diumumkan tersebut belum terlihat realisasinya di lapangan.
“Ironisnya, dana BTT yang disebut-sebut itu seolah hanya berhenti sebagai wacana, tanpa tindakan nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, para penyintas sebenarnya telah berupaya melakukan penanganan secara swadaya, mulai dari membuat saluran air sederhana hingga menimbun bagian tanah yang lebih rendah.
Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil maksimal.
“Kami sudah berusaha sebisanya, tapi kontur tanah yang miring membuat air tetap mengalir deras ke arah kopel,” kata Oskar.
Sebelumnya, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen mengungkapkan bahwa pelaksanaan pembangunan Huntara III dan IV memerlukan pembenahan di sejumlah titik.
Ia menyebut, setelah dilakukan pengecekan, anggaran BTT sebesar Rp 6,6 miliar masih tersedia dan dapat digunakan untuk mengambil langkah penanganan.
“Saya sudah cek, BTT kita masih ada Rp 6,6 miliar. Secara anggaran, kita bisa bergerak,” ujarnya kepada wartawan, Kamis, 11 Desember 2025.
Anton Doni Dihen juga menyoroti aspek teknis pembangunan hunian sementara yang dinilai memperparah penderitaan penyintas.
Dua hal utama yang disorot adalah buruknya sistem jalur air dan metode cut and fill yang tidak mempertimbangkan kondisi medan.
“Untuk pembentukan jalur air, memang parah sekali kondisinya, medannya juga berat sekali,” ungkapnya.
Namun, pernyataan orang nomor satu di Flores Timur tersebut hingga kini belum berujung pada langkah konkret.
Keluhan warga pun berulang kali disuarakan melalui berbagai platform media sosial sebagai bentuk protes dan upaya mengetuk nurani pemerintah daerah.
Hingga kini, jeritan tersebut belum berbanding lurus dengan tindakan di lapangan.
Sampai berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur telah dilakukan.
Namun, pihak terkait belum dapat dihubungi untuk memberikan penjelasan mengenai langkah penanganan yang akan diambil terhadap persoalan banjir di hunian sementara penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.

