SAMARINDA: Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur dari Fraksi PKB, Damayanti, menyebut rencana pendirian Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Mulawarman (Unmul) memang dibutuhkan.
Namun ia meminta kampus dan pemangku kebijakan tidak berhenti pada kebutuhan semata, melainkan memastikan kualitas, arah lulusan, serta kesiapan pengelolaan fakultas tersebut benar-benar matang.
“Kalau kita telaah bersama, keberadaan Fakultas Ilmu Keolahragaan ini memang sangat real dibutuhkan. Tapi menjadi catatan kita bersama, kalau bicara atlet itu umurnya maksimal di angka 30–35 tahun. Ini artinya perlu dianalisis kembali,” kata Damayanti, Senin, 2 Februari 2026.
Menurut Damayanti, pendirian fakultas baru harus disertai perencanaan yang jelas tentang keluaran (output) lulusan.
Ia menekankan, Kaltim membutuhkan sumber daya manusia yang punya keterampilan dan kualitas, bukan sekadar gelar akademik.
“Kalau kita membangun sebuah fakultas atau prodi itu harus dilihat juga, kira-kira nanti kelulusannya seperti apa,” ujarnya.
Ia lalu menyinggung kondisi ketenagakerjaan di Kalimantan Timur yang masih menjadi pekerjaan rumah, termasuk meningkatnya pengangguran.
Damayanti menyebut angka pengangguran di Kaltim berada di kisaran 5,8 persen dan perlu menjadi pertimbangan serius dalam kebijakan pendidikan tinggi.
Damayanti juga mengaitkan isu kesiapan SDM lokal dengan pengalaman daerah dalam proyek-proyek besar.
Ia mencontohkan kebutuhan tenaga kerja dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang baru diresmikan Presiden Prabowo Subianto, dengan kebutuhan tenaga kerja yang disebut mencapai 24 ribu orang.
“RDMP Balikpapan itu 24.000 tenaga kerjanya yang dibutuhkan. Tetapi siapa yang mengisi? Mayoritas adalah tenaga kerja dari luar,” katanya.
Selain RDMP, ia menyebut kebutuhan tenaga kerja di sektor industri lain juga masih banyak diisi pekerja dari luar daerah.
Damayanti menyinggung dinamika serupa yang ia temui ketika DPRD Kaltim membahas rancangan peraturan daerah tentang CSR dengan sejumlah perusahaan.
“Kami panggil manajernya, dirutnya, rata-rata kami tanya asal mereka dari mana? Rata-rata dari luar, bukan rata-rata. Semuanya dari luar. Ini menjadi catatan kita bersama,” ujar Damayanti.
Karena itu, ia berharap Unmul tidak hanya fokus pada Fakultas Ilmu Keolahragaan, tetapi juga jeli membaca peluang kebutuhan daerah secara lebih luas.
“Kita saat ini Kaltim, kalau kita lihat, perkebunan dan pertambangan lebih dominan. Tapi sayangnya yang mengisi adalah orang-orang dari luar. Nah, ini mungkin siapa tahu bisa dilihat fakultas apa yang kiranya dibutuhkan Kaltim ke depannya sehingga yang mengisi adalah anak-anak Kalimantan Timur,” katanya.
Meski memberi catatan kritis, Damayanti menyatakan dukungan terhadap rencana pendirian FIK Unmul, dengan syarat kualitas menjadi perhatian utama.
Ia meminta kesiapan sumber daya pengajar dipastikan benar-benar terpenuhi, bukan sekadar klaim “siap” di atas kertas.
“Penting sekali diperhatikan, tadi disampaikan dosennya insyaallah siap. Tapi apa benar-benar siap? Jangan sampai nanti tarik sana tarik sini. Jam-jamnya seperti apa, ini harus dipikirkan lebih panjang,” ujarnya.
Damayanti berharap jika FIK Unmul benar-benar berdiri, maka hasil akhirnya adalah lulusan yang kompeten, berdaya saing, dan punya peluang kerja yang jelas.
“Mudah-mudahan ini menghasilkan lulusan yang berkualitas, berdaya saing, dan bisa membuka peluang untuk kelulusannya. Kasihan kalau sampai hanya sekadar titel saja tetapi tidak siap di lapangan,” pungkasnya.

