SAMARINDA: Proses rukyatul hilal di Kalimantan Timur dinilai memiliki tantangan tersendiri.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Samarinda, Nasrun, menyebut hingga kini belum pernah menerima laporan hilal terlihat langsung di wilayah Kaltim.
Menurut Nasrun, faktor geografis menjadi salah satu penyebab utama. Kalimantan Timur berada di wilayah timur Indonesia, sementara pengamatan hilal dilakukan saat matahari terbenam di ufuk barat.
“Posisi kita di timur, sedangkan matahari tenggelam di barat. Ketika rukyatul hilal, kita harus melihat setelah matahari terbenam. Tetapi karena posisi kita, sering kali terhalang,” ujarnya usai Rukyatul Hilal Penetapan Awal Puasa Ramadan 1447 Hijriah di Aula Kemenag Samarinda, Selasa, 17 Februari 2026.
Ia menjelaskan, selain posisi wilayah, penghalang alami seperti pepohonan dan perbukitan turut menyulitkan pengamatan.
Namun faktor yang paling sering menghambat adalah kondisi awan.
“Sepengalaman saya, mulai bertugas di Kutai Timur hingga Kutai Kartanegara, belum pernah ada laporan hilal terlihat di Kalimantan Timur,” katanya.
Nasrun menilai peluang pengamatan hilal lebih besar di wilayah yang memiliki horizon barat terbuka langsung ke laut tanpa penghalang daratan.
Ia mencontohkan daerah pesisir seperti Jakarta Utara, Gresik, atau pantai di Sulawesi yang memiliki pandangan langsung ke arah terbenamnya matahari.
“Kalau wilayah yang benar-benar terbuka ke laut mungkin lebih memungkinkan. Tapi untuk wilayah daratan utama di Kaltim cukup sulit,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda, Riza Arian Noor, membenarkan bahwa secara geografis Kalimantan Timur memang terhalang daratan ketika menghadap ke barat.
“Kita melihat ke barat pasti terhalang daratan. Ini sangat mengganggu untuk pengamatan hilal, apalagi jika posisi bulan hanya 4 atau 5 derajat. Itu sangat kecil dan waktunya juga sangat singkat,” jelas Riza.
Ia menambahkan, faktor astronomis seperti selisih waktu (lag time) antara matahari terbenam dan kemunculan bulan juga memengaruhi keberhasilan pengamatan.
Kondisi ini berbeda setiap tahun tergantung perhitungan data astronomi.
Selain itu, faktor cuaca di Kalimantan Timur juga menjadi tantangan besar. Wilayah ini cenderung memiliki curah hujan tinggi hampir sepanjang tahun.
“Kita ini hampir hujan sepanjang tahun. Musim kemarau paling sekitar tiga bulan. Berbeda dengan Jawa yang perbedaan musimnya lebih jelas. Ini juga sangat berpengaruh terhadap pengamatan hilal,” ujarnya.
Meski demikian, hasil rukyatul hilal di daerah tetap dilaporkan ke pusat dan keputusan penentuan awal Ramadan maupun Syawal tetap ditetapkan melalui sidang isbat oleh pemerintah pusat berdasarkan laporan dari berbagai titik pemantauan di Indonesia.

