SAMARINDA: Bagi sebagian orang, Ramadan identik dengan suasana masjid yang lebih ramai dan semarak.
Namun bagi Junaidi, marbut Masjid Fathul Khair di Jalan Suryanata, Kelurahan Air Putih, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), bulan suci 1447 Hijriah justru berarti jam kerja yang lebih panjang, persiapan yang lebih rinci, dan tanggung jawab yang kian besar.
Ditemui seusai salat Asar, Minggu, 22 Februari 2026, Junaidi bercerita ritme rutinitasnya berubah total saat Ramadan tiba.
Jika pada bulan biasa ia mulai beraktivitas menjelang Subuh dan berakhir setelah Isya, maka selama Ramadan waktunya seakan tak pernah benar-benar jeda.
“Kalau Ramadan, sebelum Subuh sudah harus pastikan air wudu cukup, karpet bersih, dan pengeras suara siap. Setelah itu belum selesai, karena sore harus siapkan lagi untuk buka puasa dan Tarawih,” ujarnya.
Junaidi bukan asli Samarinda. Ia lahir dan besar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel)
13 tahun lalu, ia memutuskan hijrah ke Samarinda bersama istrinya untuk memulai hidup baru. Di kota inilah ia menemukan panggilan sebagai marbut masjid.
Kini ia tinggal bersama istri dan anaknya. Sang kakak juga menetap di Samarinda dan menjadi imam di Masjid Al-Husna, Jalan Juanda.
Lingkungan keluarga yang religius membuat Junaidi semakin mantap mengabdikan diri sebagai penjaga rumah ibadah, profesi yang sering luput dari sorotan, namun menjadi penopang utama aktivitas masjid.
“Kalau masjid bersih dan nyaman, jemaah bisa ibadah dengan tenang. Itu saja sudah membuat saya senang,” katanya sederhana.
Menurut Junaidi, perbedaan paling terasa selama Ramadan adalah lonjakan jumlah jemaah.
Jika pada hari biasa salat Subuh diikuti satu hingga dua saf, maka saat Ramadan bisa bertambah dua kali lipat. Salat Magrib dan Tarawih bahkan membuat masjid hampir penuh.
“Yang biasanya jarang kelihatan, pas Ramadan jadi sering datang. Itu yang bikin suasana masjid terasa hidup,” lanjutnya sambil tersenyum.
Lonjakan jemaah tersebut berarti tanggung jawab tambahan. Karpet harus lebih sering dibersihkan, tempat wudu tidak boleh kehabisan air, dan pendingin ruangan perlu dicek secara berkala agar tetap nyaman saat Tarawih yang berlangsung cukup lama.
Jika pada bulan biasa ia cukup menyapu dan merapikan masjid satu hingga dua kali sehari, maka di bulan Ramadan pekerjaan itu bisa dilakukan tiga sampai empat kali.
Belum lagi memastikan ketersediaan konsumsi berbuka puasa jika ada donatur yang menitipkan takjil. Beruntung, ia tidak sendiri karena ada tiga marbut lain yang turut membantu.
“Sore biasanya mulai sibuk. Ada yang antar kurma, ada yang kirim nasi kotak. Semua harus ditata rapi supaya jemaah nyaman saat berbuka,” tuturnya.
Rutinitas Ramadan bagi Junaidi dimulai lebih awal dan berakhir lebih malam.
Setelah memastikan kesiapan salat Subuh, ia biasanya tidak langsung beristirahat.
Pagi hingga siang dimanfaatkan untuk perawatan ringan, seperti mengepel lantai, membersihkan toilet, atau memperbaiki keran wudu yang bocor.
Menjelang Asar, suasana kembali ramai. Anak-anak datang mengaji, remaja masjid menyiapkan pengeras suara, dan panitia mulai berdatangan untuk persiapan buka puasa bersama.
Puncaknya tentu pada salat Isya dan Tarawih. Junaidi harus memastikan saf tertata rapi, sandal jemaah tersusun, serta halaman masjid cukup terang.
“Kalau sudah Tarawih, biasanya baru benar-benar selesai sekitar jam 10 malam. Tapi capeknya beda, capek yang terasa ringan,” katanya.
Meski pekerjaannya tak selalu terlihat, Junaidi mengaku menemukan kebahagiaan tersendiri saat melihat masjid penuh oleh jemaah. Baginya, Ramadan bukan hanya bulan ibadah bagi jemaah, tetapi juga momentum pengabdian yang lebih intens bagi seorang marbut.
Ia menyadari profesinya mungkin dianggap sederhana. Namun tanpa peran marbut, aktivitas masjid tak akan berjalan lancar.
“Marbut itu bukan cuma bersih-bersih. Kita jaga suasana, jaga kenyamanan, supaya orang betah ke masjid,” ucapnya.
Di tengah kesibukan Ramadan 1447 Hijriah, Junaidi berharap semarak ibadah yang meningkat tidak hanya bertahan selama sebulan penuh, tetapi terus berlanjut setelah Ramadan usai.
“Kalau masjid tetap ramai walau Ramadan sudah lewat, itu kebahagiaan paling besar buat kami,” pungkasnya.

