JAKARTA: Di tengah dinamika ekonomi global, dan penguatan kebijakan Bank Indonesia (BI). Untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi, di tengah dinamika pasar yang menantang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. Tetap menjaga momentum pertumbuhan, dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko.
Dengan prinsip tersebut, BNI hingga kuartal III 2026, tumbuh 11,6 persen secara tahunan (year on year/YoY). Sehingga mampu membukukan laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) sebesar Rp27,5 triliun.
Capaian tersebut, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode kuartal III. Ini mencerminkan ketahanan fundamental perseroan, di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan margin industri perbankan.
Kinerja tersebut didukung pertumbuhan kredit sebesar 22,2 persen YoY menjadi Rp992,5 triliun, dengan distribusi yang merata di semua segmen.
Dana murah atau current account savings account (CASA) juga tumbuh 19,6 persen YoY menjadi Rp733,7 triliun, sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross membaik menjadi 1,9 persen.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan dalam keterangannya, Selasa, 27 Oktober 2026 mengatakan, capaian tersebut mencerminkan konsistensi perseroan dalam menjaga pertumbuhan bisnis yang berkualitas melalui penguatan fundamental dan pengelolaan risiko.
“Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Putrama dalam keterangan tertulis.
Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BNI tumbuh 13,6 persen YoY menjadi Rp33,2 triliun, sedangkan fee-based income meningkat 8,3 persen YoY menjadi Rp13,9 triliun. Di tengah tekanan margin dan kebutuhan pencadangan yang memadai, BNI tetap membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 6,6 persen YoY menjadi Rp16,1 triliun.
Penguatan Pendanaan
Pengembangan layanan digital dan jaringan cabang terus mendukung pertumbuhan bisnis BNI. Hingga September 2026, jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 16,6 juta, tumbuh 58 persen YoY. Dengan nilai transaksi Rp1.774 triliun atau meningkat 25 persen YoY.
Sementara itu, BNIdirect mencatat nilai transaksi Rp9.324 triliun, tumbuh 16 persen YoY, dengan jumlah pengguna mencapai 293 ribu atau meningkat 19 persen YoY.
Penguatan layanan tersebut didukung transformasi jaringan melalui inisiatif BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) untuk meningkatkan produktivitas cabang, aktivitas transaksi, serta penghimpunan dana murah.
“Integrasi layanan digital dan jaringan cabang memungkinkan BNI memperluas jangkauan layanan, meningkatkan transaksi, sekaligus memperkuat hubungan dengan nasabah di berbagai segmen,” tambah Putrama.
Sementara Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan, ekspansi kredit dilakukan secara selektif pada semua segmen. Dengan menerapkan standar analisis kelayakan kredit (underwriting) yang disiplin.
“Strategi tersebut mendorong pangsa pasar kredit BNI meningkat 113 basis poin (bps) YoY menjadi 10,6 persen,” jelas Husseib Paolo.
Dari sisi pendanaan, penguatan layanan perbankan transaksi melalui BNIdirect dan wondr by BNI turut mendorong pertumbuhan CASA sebesar 19,6 persen YoY menjadi Rp733,7 triliun.
Hingga September 2026, giro BNI tumbuh 25,9 persen YoY, melampaui pertumbuhan industri sebesar 9,8 persen berdasarkan data Agustus 2026. Pangsa pasar giro meningkat 120 bps menjadi 13,2 persen. Sementara pangsa pasar tabungan naik 10 bps menjadi 9,2 persen, didukung pertumbuhan tabungan BNI sebesar 11,6 persen YoY.

