SAMARINDA: Suasana sore di halaman Masjid Darul Hannan, Jalan M. Yamin, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), selalu semarak setiap Ramadan, termasuk tahun ini.

Deretan meja panjang berwarna hijau mulai ditata rapi sejak menjelang Asar. Kursi-kursi plastik biru disusun menghadap satu arah. Di atas meja, botol air mineral dan kotak makanan telah disiapkan satu per satu.
Panitia tampak sibuk. Sebagian membersihkan meja, lainnya menyusun takjil.
Aktivitas tersebut menjadi rutinitas harian selama bulan suci: menyiapkan ratusan porsi berbuka puasa gratis bagi masyarakat umum.
Ketua Pengurus Masjid Darul Hannan, H Arbani, mengatakan program buka puasa bersama dengan makan berat telah berjalan selama tiga tahun terakhir.
Sebelumnya, masjid hanya menyediakan takjil sederhana berupa kue dan minuman.
“Dulu kami hanya sediakan kue dan minuman saja. Sekarang Alhamdulillah sudah makan berat. Ini sudah berjalan tiga tahun,” ujarnya saat ditemui di tengah persiapan berbuka, Minggu, 22 Februari 2026.
Menurut Arbani, perubahan itu dimungkinkan berkat dukungan salah satu donatur tetap, Haji Otoh, yang menanggung biaya penyediaan makanan setiap sore selama Ramadan.
“Beliau yang menanggung biaya keseluruhan setiap sore ini. Jadi buka puasa di sini terbuka untuk umum, siapa saja boleh,” jelasnya.
Setiap hari, panitia menyiapkan sekitar 400 hingga 500 porsi makanan berat.
Jumlah tersebut disesuaikan dengan antusiasme masyarakat yang terus meningkat sejak hari pertama Ramadan.
“Sehari kurang lebih 500 orang. Kadang setengahnya dulu terisi, nanti menjelang Magrib penuh,” katanya.
Program berbuka puasa ini tidak dibatasi untuk jemaah tetap masjid saja. Warga sekitar, musafir, pekerja harian, hingga siapa pun yang melintas dipersilakan bergabung.
Sejak pukul 17.00 Wita, halaman masjid mulai dipadati warga. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang sendiri. Anak-anak duduk berkelompok, sementara orang tua berbincang ringan menunggu azan Magrib.
Beberapa panitia terlihat mondar-mandir memastikan setiap kursi terisi dan tidak ada yang terlewat mendapatkan makanan. Di sudut lain, air minum ditambah dan kotak nasi dirapikan kembali.
Arbani mengatakan, selain program undian berhadiah yang telah berjalan selama 16 tahun, penyediaan makan berat ini menjadi bagian dari upaya memakmurkan masjid dan memperkuat kebersamaan di bulan suci.
“Tujuan kami bagaimana masjid ini hidup. Orang datang bukan hanya salat, tapi juga merasakan kebersamaan Ramadan,” ujarnya.
Baginya, melihat ratusan orang duduk bersama dalam satu hamparan meja panjang setiap sore menjadi pemandangan yang mengharukan.
“Alhamdulillah, ini berkah Ramadan. Mudah-mudahan bisa terus berjalan,” pungkasnya.

