SAMARINDA: Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) , Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memastikan pasokan pangan pokok di seluruh daerah tetap tersedia dan terkendali, meskipun terjadi kenaikan jumlah penduduk yang cukup signifikan dalam satu tahun terakhir.
Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Siti Farisya Yana, menyebutkan jumlah penduduk Kaltim bertambah sekitar 210.000 jiwa sepanjang satu tahun terakhir. Namun, lonjakan tersebut dinilai tidak berdampak signifikan terhadap ketersediaan stok pangan daerah.

“Stok tidak terlalu berkurang karena penyiapan dan tata kelola pangan sudah di-maintain dengan baik. Pemerintah dari pusat sampai desa sudah memahami siklus kebutuhan pangan tahunan, termasuk saat Nataru,” ujar Yana saat jumpa pers di ruang Wiek Diskominfo Kaltim, Jumat 12 Desember 2025.
Ia menegaskan, stok beras di Kalimantan Timur dipastikan aman hingga memasuki 2026, didukung oleh cadangan beras pemerintah daerah, distribusi Bulog, serta koordinasi lintas sektor dalam pengendalian pasokan.
Meski pasokan aman, pemerintah daerah tetap mencermati dinamika harga, khususnya pada komoditas hortikultura. Musim hujan yang berlangsung saat ini disebut memengaruhi masa panen dan distribusi hasil pertanian, terutama cabai.
“Musim hujan berdampak pada masa petik petani, sehingga suplai cabai tidak selalu stabil. Kondisi ini memicu fluktuasi harga,” jelasnya.
Berdasarkan data Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (DPPKUKM) Kaltim per 11 Desember 2025, sejumlah komoditas bumbu dapur mengalami kenaikan harga cukup signifikan.
Kepala Bidang Perdagangan DPPKUKM Kaltim, Ali Wardana, mengungkapkan harga rata-rata Cabai Rawit Merah di tingkat provinsi mencapai Rp64.704 per kilogram, naik 17,89 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Harga tertinggi tercatat di Kabupaten Mahakam Ulu sebesar Rp80.000 per kilogram, sementara harga terendah berada di Kutai Barat dengan kisaran Rp55.000 per kilogram.
Selain cabai, Bawang Merah juga mengalami kenaikan harga sebesar 18,47 persen, dengan rata-rata provinsi mencapai Rp53.672 per kilogram.
Sebaliknya, komoditas strategis seperti beras terpantau relatif stabil. Harga Beras Premium berada di kisaran Rp16.240 per kilogram, sedangkan Beras Medium tercatat Rp15.193 per kilogram, dengan stok yang dinilai mencukupi kebutuhan masyarakat.
Untuk mengendalikan harga, Pemprov Kaltim terus mengintensifkan pemantauan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) serta menyiapkan langkah intervensi jika kenaikan harga berlangsung tanpa koreksi.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah Gerakan Pangan Murah (GPM). Hingga 11 Desember 2025, kegiatan tersebut telah dilaksanakan 482 kali di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.
Kota Balikpapan tercatat sebagai daerah dengan pelaksanaan GPM terbanyak, yakni 179 kali, disusul Kabupaten Paser sebanyak 103 kali.
Selain itu, pemerintah juga memberikan subsidi distribusi untuk menekan disparitas harga antarwilayah. Ali mencontohkan, Dinas Perdagangan Kota Balikpapan baru-baru ini menerima bantuan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebesar Rp600 juta untuk mendukung distribusi sekitar 100 ton bahan pokok melalui distributor lokal.
Berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan Oktober 2025, secara umum Kalimantan Timur berada dalam kategori waspada. Sebanyak 60 persen wilayah, meliputi Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Balikpapan, Samarinda, dan Bontang, masuk kategori aman (hijau).
Sementara itu, wilayah Kabupaten Paser, Kutai Barat, Kutai Timur, Berau, dan Mahakam Ulu masih berada pada kategori waspada (kuning) sehingga memerlukan perhatian khusus dalam pengendalian distribusi dan harga.
Pemprov Kaltim mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying, mengingat cadangan pangan daerah masih mencukupi untuk menghadapi libur panjang sekolah serta perayaan Nataru 2025.
“Stok aman dan distribusi kami pantau setiap hari. Masyarakat tidak perlu khawatir,” tegas Yana.

