SAMARINDA: Hari kedua Ramadan 1447 Hijriah, Jumat, 20 Februari 2026, membawa suasana berbeda di sepanjang Jalan Cendana, Kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).
Dari pantauan Narasi.co di lapangan sejak pukul 17.00 WITA, deretan lapak takjil mulai diserbu warga yang berburu hidangan berbuka puasa.

Di bawah terpal sederhana yang membentang di tepi jalan, belasan pedagang berjajar menjajakan aneka kue tradisional, gorengan, hingga lauk siap santap.
Kotak-kotak plastik transparan berisi bolu tabur meses, donat gula, kue lumpur, risoles, pastel, lemper, hingga aneka jajanan pasar tertata rapi di atas meja panjang.
Takjil berbahan gorengan tampak paling cepat diserbu. Bakwan, tahu isi, tempe goreng, dan risoles nyaris tak berhenti diambil pembeli.
Di salah satu sudut meja, kue berbahan santan yang dibungkus daun pisang juga menjadi incaran.
“Kalau hari pertama memang paling ramai. Biasanya orang masih semangat, beli agak banyak,” ujar Lina (35), salah satu pedagang yang sudah tiga tahun berjualan takjil di lokasi tersebut.
Ia mengaku menyiapkan lebih dari 300 potong gorengan dan 200 aneka kue untuk minggu pertama Ramadan.
Harga yang ditawarkan relatif terjangkau. Gorengan dijual Rp2.000 hingga Rp3.000 per buah, sementara kue basah berkisar Rp3.000 hingga Rp5.000.
Paket lauk seperti ayam goreng dan telur pindang dibanderol mulai Rp10 ribu.
“Kalau dihitung-hitung, melihat omzet kotor kemarin bisa sekitar Rp1,8 juta sampai Rp2,2 juta. Tapi itu belum dipotong belanja bahan, minyak, sama gas,” jelasnya.
Menurut Lina, harga bahan pokok tahun ini masih terasa naik dibanding Ramadan sebelumnya, terutama minyak goreng dan telur.
Namun, ia berusaha tidak menaikkan harga terlalu tinggi agar tetap terjangkau pembeli.
“Minyak sama telur agak naik. Tapi ya kita siasati saja, jangan sampai pembeli lari,” katanya sambil melayani pembeli yang tak kunjung berhenti.
Di tengah kepadatan pembeli, arus lalu lintas di Jalan Cendana sempat melambat. Sepeda motor berjejer di pinggir jalan, sebagian pengendara masih mengenakan helm sambil memilih takjil.
Rudi (48), warga Sungai Pinang, mengaku sengaja datang lebih awal agar tidak kehabisan.
Ia membeli beberapa bungkus gorengan, lemper, dan kolak untuk keluarganya.
“Anak-anak pasti cari gorengan sama kue manis. Awal Ramadan biasanya lengkap dulu, nanti kalau sudah pertengahan Ramadan baru beli secukupnya,” ujarnya sambil tersenyum.
Menjelang pukul 17.30 WITA, beberapa wadah kue mulai terlihat kosong. Pedagang sibuk membungkus pesanan, sementara menu favorit seperti risoles dan bakwan tersisa sedikit.
Ramadan hari kedua di Jalan Cendana bukan sekadar tradisi berburu takjil, tetapi juga menjadi momentum perputaran ekonomi kecil yang memberi tambahan rezeki bagi pedagang musiman.
Beragam makanan yang dijajakan menjadi penanda bahwa bulan suci telah tiba, membawa berkah bagi penjual maupun pembeli.

