SAMARINDA: Ramadan selalu datang membawa perasaan yang tak sederhana bagi anak rantau.
Ada bahagia menyambut bulan suci, tetapi juga rindu yang diam-diam menetap.
Perasaan itu dirasakan Aminah, perempuan kelahiran Purwakarta yang tahun ini menjalani Ramadan di Samarinda sebagai jurnalis sekaligus mahasiswa di Universitas Terbuka Samarinda.
Tahun ini menjadi Ramadan pertamanya di Samarinda dan tahun keenam berpuasa jauh dari rumah.
Ia mengaku tetap bahagia karena sebagai muslim, Ramadan adalah bulan istimewa yang penuh berkah dan sudah dinantikan sejak Rajab.
Namun di saat yang sama, ada kesedihan kecil yang turut menyertainya.
Tahun ini ia sedang berhalangan sehingga belum bisa menjalani puasa maupun salat tarawih di hari pertama.
Padahal, ia berharap dapat merasakan suasana tarawih perdana di kota barunya.
“Sedihnya karena belum bisa ikut puasa dan tarawih di hari pertama. Tapi tidak apa-apa, masih ada hari-hari berikutnya,” tuturnya saat dihubungi, Kamis, 19 Februari 2026.
Lima Ramadan sebelumnya ia jalani di pesantren, dengan aktivitas padat dan berbagai program khusus yang menurutnya sangat berkesan.
Tahun ini terasa berbeda karena selain menjadi puasa pertama di kota baru, ia juga menjalaninya dalam peran baru sebagai jurnalis.
Ritmenya berubah. Aminah tidak lagi sekadar menjadi peserta kegiatan, tetapi juga pengamat yang merekam berbagai sisi Ramadan.
Mulai dari kondisi pasar, kebijakan pemerintah, penetapan awal Ramadan, hingga pengalaman pertamanya mengikuti rukyatul hilal yang meninggalkan kesan mendalam.
Perbedaan Ramadan di perantauan terasa jelas baginya. Jika di rumah, bulan suci selalu diawali dengan persiapan bersama keluarga: membersihkan rumah, mengikuti pengajian di madrasah, hingga merasakan hangatnya tarawih pertama yang ramai. Tahun ini, tak ada ritual semacam itu.
Ia hanya menyiapkan diri secara pribadi untuk menyambut Ramadan.
Kenangan tradisi di rumah pun masih melekat. Selain membersihkan rumah, ia biasa memasak bersama keluarga, menyiapkan menu khas seperti semur, opor, dan soto yang dinikmati bersama dalam kebersamaan sederhana pada hari pertama puasa.
Rasa rindu kadang muncul. Namun Aminah memiliki cara sederhana untuk mengatasinya, yakni dengan menelepon keluarga dan memastikan kabar mereka.
“Itu sudah cukup untuk melepas rindu,” katanya.
Sebagai anak rantau, ia belum membuat persiapan khusus untuk sahur dan berbuka.
Ia berencana berbelanja buah dan sayur dalam beberapa hari ke depan.
Saat ini, waktunya lebih banyak digunakan untuk mencari ide liputan Ramadan, memanfaatkan masa libur semester.
Sore hari, ia berencana mengunjungi pasar Ramadan dan menuju masjid untuk mengantar rekannya.
Aminah juga telah menghubungi orang tuanya. Tidak ada pesan khusus, hanya doa-doa yang menurutnya menjadi penguat terbesar menjalani Ramadan jauh dari rumah.
Ia pun belum memiliki rencana buka bersama teman maupun pulang kampung saat Lebaran, mengingat baru saja pulang bulan lalu.
Di balik rutinitas sederhana itu, Aminah menyimpan target pribadi. Ramadan tahun ini ingin ia jalani dengan lebih disiplin, menjaga konsistensi salat malam, serta menargetkan khatam Al-Qur’an dua kali.
Bagi sesama perantau yang menjalani Ramadan jauh dari keluarga, Aminah berpesan agar tetap kuat menjaga niat. Jarak mungkin menghadirkan rasa kehilangan, tetapi makna Ramadan tidak berkurang karenanya.
“Jangan lupa jaga kesehatan, ibadah, dan terus mendoakan orang-orang tercinta dari kejauhan,” pesannya.
Baginya, Ramadan di perantauan bukan sekadar soal jarak. Ia menjadi ruang belajar tentang kemandirian, rindu, dan menemukan makna baru dalam kebersamaan yang berbeda.
Di Samarinda tahun ini, perjalanan itu baru saja dimulai.

