SAMARINDA: Kota Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim), masuk 10 besar Kota Layak Huni di Indonesia, sebuah pencapaian yang didorong oleh kesuksesan program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya).
Hal tersebut, menjadi pertama kalinya dalam sejarah yang berhasil diraih Samarinda di dalam masa kepemimpinan Andi Harun sebagai Wali Kota Samarinda.
“Dulu hanya Balikpapan yang selalu masuk kategori 10 kota di Indonesia sebagai kota yang layak huni,” ucap Andi Harun di Halaman Koma Cafe Samarinda, Selasa (5/12/2023).
“Tahun ini, Samarinda, sejak berdiri belum pernah masuk Kota Layak Huni. Namun, tahun ini Samarinda masuk 10 besar Kota Layak Huni,” sambungnya.
Menurutnya, tahun ini ada 2 kota yang turun kelas yakni Balikpapan dan Denpasar. Dan Samarinda, yang sejak berdirinya tidak pernah masuk dalam kategori 10 kota di Indonesia yang layak huni, kini berhasil menduduki peringkat tersebut.
Keberhasilan Samarinda meraih posisi dalam 10 besar Kota Layak Huni tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat lokal, tetapi juga menjadi informasi positif bagi para investor.
“Penghargaan tersebut juga sebagai informasi bagi investor. Siapa yang mau investasi kalau kotanya tidak aman dan nyaman, banjir, kebersihannya tidak berubah, birokrasinya tidak berubah, dan maraknya tindak pungli dan korupsi,” pungkasnya.
Selain itu, Andi Harun mengungkap upaya Kebersihan Kota Samarinda dalam dua tahun terakhir.
“Alhamdulillah, dalam 2 tahun terakhir ini, kita semakin bersih, Samarinda makin hari makin meningkat kebersihannya,” ucap Andi Harun
Peningkatan kebersihan Samarinda diakui sebagai hasil dari meningkatnya kesadaran masyarakat. Meskipun masih banyak yang perlu dibenahi, kesadaran untuk menjaga kebersihan kota terus tumbuh.
“Inilah pentingnya membangun kebersamaan, tidak perlu bicara yang tinggi-tinggi, kebersihan kampung dulu. Itulah sebabnya ada Probebaya, kegiatan yang direncanakan, dilaksanakan, dipertanggungjawabkan, dan diawasi oleh masyarakat sendiri,” tegasnya.
Politisi Partai Gerindra tersebut juga memaparkan anggaran yang di serahkan Pemkot kepada setiap RT yang ada di Kota Samarinda.
“Setiap RT mendapatkan 100 juta anggaran untuk Probebaya, dan ada 2000 RT kurang lebih 200 miliar anggarannya setiap tahun. Kalo sampai 200 miliar tidak membawa perubahan maka pasti ada sesuatu yang bermasalah,” ucapnya dengan tegas.
Penghargaan ini bukan hanya menjadi apresiasi dari masyarakat Samarinda tetapi juga dari luar kota, menandakan keberhasilan para ketua RT, RW, lurah, dasa wisma, dan masyarakat dalam membangun kampung mereka sendiri. (*)

