BANGKALAN: Tradisi ziarah kubur menjelang bulan suci Ramadan kembali menggeliat di kompleks makam Syaikhona Kholil di Kabupaten Bangkalan, Jumat, 13 Februari 2026.
Berdasarkan kalender Hijriah 1447, awal Ramadan diperkirakan jatuh pada 18 atau 19 Februari 2026.
Sepekan menjelang bulan puasa, arus peziarah mulai meningkat, terutama pada malam hari dan akhir pekan.
Pantauan di lokasi, rombongan peziarah datang silih berganti. Mereka bertawassul dan memanjatkan doa di area pesarean yang berada di sisi kanan masjid kompleks makam. Kendaraan pribadi hingga bus pariwisata memenuhi area parkir yang telah diperluas.
“Sejak awal Februari ini sudah mulai terasa peningkatannya. Biasanya makin mendekati Ramadhan, makin padat,” ujar Ahmad Fauzi (47), salah satu pedagang warung makan di sekitar kompleks makam, Jumat, 13 Februari 2026, siang.
Menurutnya, lonjakan peziarah membawa berkah tersendiri bagi pedagang kecil. Setelah beberapa tahun terakhir sempat terdampak pandemi dan pembatasan aktivitas, kini suasana kembali ramai.
“Alhamdulillah sekarang sudah normal lagi. Apalagi menjelang puasa seperti ini, pengunjung dari luar Madura juga banyak,” katanya.
Tak hanya dari wilayah Madura, sejumlah peziarah mengaku datang dari Surabaya, Sidoarjo, hingga Kalimantan Timur.
Mereka sengaja berziarah untuk mendoakan keluarga sekaligus mengambil berkah dari ulama kharismatik yang dikenal sebagai guru para kiai Nusantara tersebut.
Salah satu peziarah asal Surabaya, Nur Aini (35), mengaku rutin datang setiap menjelang Ramadan.
“Biasanya sebelum puasa kami sekeluarga sowan dan kirim doa di sini. Rasanya lebih tenang menyambut Ramadan,” tuturnya.
Syaikhona Kholil dikenal sebagai ulama besar yang memiliki pengaruh luas dalam perkembangan Islam di Indonesia.
Ia merupakan guru dari pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asy’ari, serta sejumlah kiai kharismatik lain di Jawa dan luar Jawa.
Lahir pada abad ke-19 dan wafat pada 1925, ia berasal dari keluarga ulama. Sejak kecil dikenal tekun mendalami ilmu fikih dan nahwu, bahkan telah menghafal Nazham Alfiyah Ibnu Malik di usia muda.
Ia menimba ilmu di berbagai pesantren di Jawa hingga ke Mekkah, Arab Saudi.
Kompleks makamnya kini menjadi salah satu destinasi wisata religi utama di Madura.
Selain area pemakaman dan masjid, kawasan tersebut dilengkapi pasar tradisional, toko oleh-oleh, serta deretan warung makan yang hidup dari aktivitas para peziarah.
Menjelang Ramadan 2026, suasana religius terasa kian kental. Lantunan doa terdengar bersahutan, sementara para peziarah duduk bersila membaca tahlil di bawah naungan cungkup makam.
Imbauan pengelola kompleks makam melalui sejumlah spanduk turut mengajak pengunjung untuk tetap menjaga ketertiban dan kebersihan, mengingat lonjakan peziarah diperkirakan terus meningkat hingga malam menjelang 1 Ramadan 1447 Hijriah.
Tradisi ziarah jelang puasa pun kembali menjadi denyut spiritual masyarakat, menandai kesiapan menyambut bulan suci dengan doa dan refleksi diri.

