SAMARINDA: Kampung Wisata Tenun Samarinda, yang terletak di Jalan Panglima Bendahara, kawasan Samarinda Seberang, menawarkan pengalaman unik bagi pengunjung yang ingin melihat langsung proses pembuatan sarung tenun khas Kota Tepian.
Lokasinya hanya beberapa menit dari pusat kota, dan begitu sampai, pengunjung langsung disambut suasana khas yang dipenuhi oleh deretan ibu-ibu pengrajin yang tengah asyik menenun menggunakan alat tradisional Gedokan atau Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).
Dengan penuh ketelatenan, mereka mengubah benang-benang berwarna menjadi sarung Samarinda yang elegan.
Pengunjung tidak hanya bisa melihat proses tenun yang mengagumkan, tetapi juga diberi kesempatan untuk mencoba menenun langsung, dibimbing oleh para pengrajin.
Salah satu pengrajin senior, Muhammad Arsyad, yang telah menekuni kerajinan ini sejak 1990, menjelaskan bahwa usaha ini dimulai oleh kakeknya, diteruskan ibunya, dan kini menjadi tanggung jawabnya sebagai generasi ketiga.
Menurutnya, meskipun jumlah pengrajin semakin sedikit, permintaan terhadap sarung Samarinda tetap tinggi, bahkan melebihi kapasitas produksi yang ada.
“Sedikit yang memproduksi, namun permintaan banyak. Sarung Samarinda terkenal sampai Nusantara,” ujar Arsyad saat ditemui disela kegiatannya, Jumat, 26 Desember 2025.
Arsyad membeberkan alasan tetap eksisnya sarung tenun ini dengan selalu menjaga kualitas.
Untuk bahan baku, kata Arsyad menggunakan bahan dari luar negeri, namun tetap mempertahankan bahan lokal untuk varian sarung yang lebih terjangkau.
Bahan baku yang digunakan diambil dari berbagai daerah, termasuk luar negeri.
Meski bahan baku dari China dikenal sebagai yang terbaik, ia juga memanfaatkan bahan lokal untuk berbagai kualitas sarung yang berbeda.
Tak hanya sarung, Arsyad juga memproduksi kerajinan lain seperti tas, gelang manik, dan kopiah.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan usaha agar tidak bergantung hanya pada satu produk.
Dalam proses produksi, ia mempekerjakan lebih dari 30 pengrajin yang bekerja secara fleksibel, tanpa target ketat, untuk menjaga kenyamanan dan produktivitas mereka.
“Kami mempekerjakan lebih dari 30 pengrajin, dan kapasitas produksi harian kami mencapai sekitar 15 sarung. Kami berusaha untuk menjaga kualitas dan kenyamanan kerja mereka,” jelasnya.
Salah satu sosok pengrajin lainnya selain Arsyad yang konsisten menjaga tradisi adalah Vera Eka Wati, pemilik Rumah Tenun Rahma Dina.
Sejak kecil ia sudah akrab dengan dunia tenun, belajar langsung dari almarhum ibunya.
Kini, sudah delapan tahun ia menekuni usaha ini secara mandiri, sekaligus memproduksi kerajinan manik-manik khas Samarinda.
“Kalau motifnya sederhana bisa selesai dua hari. Tapi kalau yang lebih rumit bisa sampai tiga hari atau lebih. Tantangannya biasanya kalau benangnya putus, harus disambung lagi satu per satu,” ujar Vera.
Harga sarung tenun bervariasi, mulai dari Rp450 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung kerumitan motif dan waktu pengerjaan.
Tak sedikit pelanggan berasal dari luar kota, menjadi bukti bahwa produk kriya lokal ini masih punya pesona tersendiri.
“Sudah banyak yang memesan kain tenun saya, bahkan dari berbagai kota,” kata Vera.
“Selain sarung, kami juga memproduksi berbagai kerajinan lain seperti tas, gelang manik, dan kopiah, untuk menjaga keberlanjutan usaha dan mendiversifikasi produk,” tambahnya.
Kampung Wisata Tenun Samarinda buka setiap hari, mulai pukul 09.00 hingga 15.00 Wita.
Dengan terus berkembangnya permintaan dan semakin dikenalnya produk tenun Samarinda, diharapkan kerajinan ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga memberi dampak positif pada ekonomi lokal, serta terus menjaga kualitas dan keberlanjutannya di masa depan.
“Harapan saya, sarung tenun Samarinda ini tetap eksis dan memberi dampak positif bagi masyarakat lokal,” kata Arsyad penuh harap.

