SAMARINDA: Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menyiapkan kajian pemetaan dan pendalaman alur pelayaran Sungai Mahakam sebagai langkah strategis menjaga keselamatan pelayaran sekaligus menjamin kelancaran distribusi logistik di daerah.
Kajian kedalaman alur atau sounding tersebut akan dilakukan di sejumlah titik strategis, mencakup jalur eksisting yang selama ini digunakan kapal, hingga jalur alternatif menuju muara dan laut.
Langkah ini diambil menyusul laporan para nakhoda dan pemilik kapal terkait kendala navigasi akibat pendangkalan dan hambatan di beberapa ruas Sungai Mahakam.
Kepala Bidang Pelayaran Dishub Kaltim, Ahmad Maslihuddin, mengatakan hasil pemetaan akan menjadi dasar penting untuk menentukan tingkat keamanan pelayaran sekaligus efisiensi jalur transportasi sungai.
“Di alur pelayaran ada beberapa titik yang akan kami cek, termasuk jalur-jalur alternatif selain jalur eksisting. Semuanya akan kita sounding untuk melihat kedalaman dan potensi hambatan,” ujar Maslihuddin, Selasa, 16 Desember 2025.
Ia menegaskan, Sungai Mahakam masih menjadi tulang punggung transportasi barang di Kaltim.
Karena itu, kondisi alur pelayaran yang aman dan lancar akan berdampak langsung pada stabilitas distribusi kebutuhan pokok dan logistik masyarakat.
Upaya ini sejalan dengan Program Andalan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, khususnya Jospol poin 7 tentang Revitalisasi Sungai Mahakam sebagai jalur transportasi strategis, serta Jospol poin 8 yang menitikberatkan pada penguatan ketahanan pangan melalui kelancaran distribusi logistik.
“Revitalisasi Sungai Mahakam sangat penting. Kalau pelayaran lancar, distribusi pangan dan kebutuhan pokok juga akan semakin terjamin,” jelasnya.
Dalam kajian awal, Dishub Kaltim menemukan adanya beberapa jalur yang secara jarak lebih pendek dan berpotensi mempercepat waktu tempuh kapal.
Namun di lapangan, jalur tersebut masih memiliki kendala serius, salah satunya keberadaan pipa bawah air milik Pertamina yang melintang di dasar sungai.
“Ada jalur yang lebih pendek, tapi terdapat pipa Pertamina di dasar sungai. Ini harus dikaji lebih lanjut dan dikoordinasikan, apakah memungkinkan penataan atau solusi teknis lainnya,” ungkap Maslihuddin.
Selain itu, pemetaan juga akan difokuskan pada kawasan Muara Berau dan Muara Jawa yang selama ini menjadi rute utama kapal ponton dan pengangkut barang, termasuk untuk aktivitas ship to ship.
Pada kondisi tertentu, kapal harus memutar cukup jauh karena jalur alternatif tidak dapat dilalui.
“Kalau jalur pendek tidak bisa dilewati, kapal menuju lokasi ship to ship harus memutar jauh. Ini yang ingin kita petakan ulang agar lebih efisien namun tetap aman,” tambahnya.
Maslihuddin mengakui, hasil pemetaan kedalaman alur nantinya juga akan menentukan kebutuhan pengerukan sungai.
Namun, ia menekankan bahwa setiap langkah harus melalui kajian matang karena membutuhkan anggaran besar.
“Studi kedalaman saja biayanya bisa mencapai miliaran rupiah, apalagi kalau sampai pengerukan besar. Karena itu pemetaan jalur ini menjadi sangat krusial untuk menentukan prioritas,” jelasnya.
Dishub Kaltim menargetkan kajian pemetaan alur Sungai Mahakam dapat rampung pada tahun depan.
Hasilnya diharapkan menjadi dasar kuat dalam mendukung revitalisasi sungai, meningkatkan keselamatan pelayaran, serta memperkuat distribusi logistik guna menunjang ketahanan pangan Kaltim.

