SAMARINDA: Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) merancang pembangunan 16 titik tambat kapal di alur Sungai Mahakam sebagai bagian dari strategi memperkuat sumber pendapatan daerah di tengah penurunan kemampuan fiskal.
Rencana tersebut digarap melalui skema kerja sama business to business (B to B) dengan melibatkan badan usaha daerah, sehingga pemerintah provinsi tidak berjalan sendiri dalam pengelolaannya.
Kepala Dinas Perhubungan Kaltim Yusliando, mengatakan pengembangan fasilitas tambat kapal menjadi salah satu opsi realistis untuk mengoptimalkan potensi ekonomi Sungai Mahakam yang selama ini belum memberikan kontribusi signifikan bagi pendapatan asli daerah (PAD).
“Tahun ini kemampuan Transfer ke Daerah turun cukup tajam. Karena itu daerah harus mulai mencari sumber pendapatan alternatif. Mahakam ini aset besar, aktivitasnya ramai, tapi belum memberi manfaat langsung ke kas daerah,” ujarnya, Sabtu, 17 Januari 2026.
Pemprov Kaltim telah menetapkan dua lokasi awal, yakni Sungai Kunjang dan Sungai Lais, sebagai titik pembangunan fasilitas tambat.
Kedua kawasan tersebut dipilih karena berada di atas lahan milik pemerintah provinsi, sehingga memudahkan proses perencanaan dan pengendalian aset.
Pembangunan dirancang bertahap mulai 2026, menyesuaikan dengan kemampuan anggaran.
Tahap awal difokuskan pada pembangunan sarana dasar dan pemenuhan aspek teknis konstruksi.
“Anggarannya memang besar, sehingga tidak bisa sekaligus. Kita mulai dari lokasi yang paling siap dari sisi aset,” jelas Yusliando.
Untuk pengelolaan jasa tambat kapal, Pemprov Kaltim menyiapkan skema B to B dengan melibatkan Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya (MBS) sebagai perwakilan pemerintah daerah.
MBS diproyeksikan menjalin kerja sama dengan Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta pihak terkait lainnya.
“Penunjukan resminya masih berproses, tapi arahnya MBS yang akan kami siapkan sebagai mitra. Targetnya pada 2027 skema ini sudah berjalan,” katanya.
Perencana teknis proyek, Ahmad Maslihuddin, menjelaskan dari sisi desain, enam titik tambat direncanakan dibangun di kawasan Sungai Kunjang dan 10 titik tambat di Sungai Lais.
Seluruhnya menggunakan sistem dolphin atau tiang tambat.
“Totalnya 16 dolphin. Setiap titik bisa menampung hingga tiga baris kapal dengan sistem rafting, sehingga kapasitas tambatnya cukup besar,” terangnya.
Meski demikian, desain masih terus disempurnakan. Tim teknis tengah melakukan penyesuaian agar target awal 20 titik tambat di dua lokasi tersebut tetap bisa dikejar tanpa membebani anggaran secara berlebihan.
“Target kami pekerjaan konstruksi bisa selesai di akhir 2026. Dari situ baru kita masuk ke tahap pengelolaan dan pemanfaatan ekonomi,” ujarnya.
Melalui proyek ini, Pemprov Kaltim berharap Sungai Mahakam tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi dan logistik, tetapi juga menjadi sumber pendapatan baru yang berkelanjutan bagi daerah.

