SAMARINDA: Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini tidak hanya mempermudah pekerjaan, tetapi juga mulai menghadirkan berbagai tantangan baru di ruang digital.
Mulai dari maraknya foto palsu berbasis AI, banjir informasi yang sulit diverifikasi, hingga persoalan hak cipta kreator menjadi isu yang semakin dekat dengan kehidupan Generasi Z.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Mulawarman melalui program tahunan Ilkomers Goes to School kembali menggelar edukasi literasi digital di SMKN 4 Samarinda, Senin 25 Mei 2026.
Mengusung tema “KOMUNIKA (Komunikasi Cerdas di Era AI)” dengan tagline “Cerdas Menggunakan, Bijak Membedakan”, kegiatan tersebut bertujuan mengajak pelajar lebih kritis dalam memanfaatkan teknologi berbasis AI.
Berbeda dari seminar biasa, sesi edukasi ini turut membahas langsung berbagai fenomena digital yang dekat dengan keseharian anak muda, salah satunya tren mengubah foto diri menjadi ilustrasi AI yang sempat viral di media sosial.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unmul menjelaskan, di balik tren yang terlihat menarik tersebut terdapat risiko penyalahgunaan data biometrik wajah pengguna yang berpotensi tersimpan di server AI tanpa kejelasan perlindungan privasi.
Selain itu, penggunaan AI yang semakin instan juga dinilai mulai memengaruhi cara generasi muda memandang proses kreatif. Kemudahan menghasilkan gambar, tulisan maupun desain hanya dalam hitungan detik dikhawatirkan dapat mengurangi apresiasi terhadap kreativitas yang lahir dari proses manusia.
Pemateri utama kegiatan, Alya Karina Inayah, menekankan bahwa Generasi Z tidak boleh hanya menjadi pengguna pasif teknologi yang mudah percaya terhadap semua konten di internet.
“AI sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya harus dianggap ancaman. Teknologi ini bisa membantu banyak hal, tetapi kita juga tidak boleh terlalu bergantung padanya,” ujarnya.
Menurut Alya, kemampuan berpikir kritis dan melakukan verifikasi visual menjadi keterampilan penting di era digital saat ini.
“Sebelum AI berkembang seperti sekarang, manusia sudah mampu berpikir, menganalisis, dan menciptakan sesuatu dengan kemampuan mereka sendiri. Karena itu kita tetap perlu mengandalkan nalar dan berpikir kritis,” katanya.
Dalam sesi edukasi tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai cara sederhana mengenali gambar manipulasi berbasis AI. Mulai dari memperhatikan detail anatomi yang tidak wajar seperti jumlah jari, bentuk aksesori yang tidak simetris, hingga detail pakaian yang tampak ganjil.
Selain itu, peserta diajak memahami pentingnya memperhatikan logika latar gambar seperti arah bayangan yang tidak konsisten, bangunan yang terdistorsi, atau tulisan yang sulit terbaca.
Sebagai penutup, kegiatan ini turut menekankan pentingnya etika dalam penggunaan AI, mulai dari transparansi penggunaan konten berbasis AI, kebiasaan memverifikasi informasi, perlindungan data pribadi, hingga menjaga kemampuan berpikir mandiri agar tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi.
Melalui kampanye tersebut, Ilkomers Goes to School berharap Generasi Z dapat memandang AI secara lebih seimbang, yakni memanfaatkan teknologi secara cerdas tanpa kehilangan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis.

