BALIKPAPAN: Pemerintah terus memperkuat agenda transisi hijau sebagai arah strategis pembangunan nasional.
Kebijakan ini sejalan dengan visi pembangunan Asta Cita serta komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca melalui skema Nationally Determined Contribution (NDC).
Indonesia menargetkan penurunan emisi sebesar 31,89 persen pada 2030 melalui upaya mandiri, dan hingga 43,20 persen dengan dukungan internasional.
Target ini menjadi fondasi transformasi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan transisi hijau dijalankan melalui tiga pilar utama, yakni pengembangan green energy, penguatan green economy serta penciptaan green jobs.
Ketiga pilar tersebut dirancang agar proses transformasi berlangsung inklusif, berkeadilan, dan memberi manfaat nyata bagi perekonomian nasional serta masyarakat.
“Ambisi besar ini tentu membutuhkan landasan ekonomi makro yang kokoh agar transformasi dapat berjalan berkelanjutan,” ujar Airlangga saat Seminar Nasional Transisi Energi Berkeadilan dan Peluang Green Jobs serta Green Economy di Kalimantan Timur dan Indonesia di Universitas Balikpapan, Selasa, 27 Januari 2026.
Airlangga memaparkan, kondisi ekonomi nasional saat ini menunjukkan ketahanan yang solid.
Pada kuartal III 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,04 persen (yoy), sementara inflasi per Desember 2025 tetap terkendali di level 2,92 persen (yoy).
Ke depan, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan tetap kuat, masing-masing 5,2 persen pada 2025 dan 5,4 persen pada 2026.
Sentimen ekonomi domestik juga terjaga positif, tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mencetak rekor tertinggi, PMI Manufaktur Desember 2025 yang berada di zona ekspansif di level 51,2, serta Indeks Keyakinan Konsumen yang tetap optimistis di angka 123,5.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mencatat surplus sebesar USD2,66 miliar, dengan surplus kumulatif Januari–November 2025 mencapai USD38,54 miliar dan berlangsung selama 67 bulan berturut-turut.
Sementara itu, realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sepanjang 2025 mencapai Rp1.931 triliun atau tumbuh 12,7 persen (yoy).
Cadangan devisa juga berada di level tinggi sebesar USD156,5 miliar per akhir Desember 2025.
Pertumbuhan kredit yang terjaga di angka 9,3 persen (yoy), terutama kredit investasi, turut memperkuat stabilitas ekonomi dan membuka ruang fiskal bagi pengembangan sektor strategis, termasuk energi bersih.
Dalam konteks transisi energi, pemerintah mendorong percepatan menuju kedaulatan energi sekaligus penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.
Indonesia memiliki potensi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 3.686 gigawatt (GW), dengan Kalimantan menyumbang sekitar 517 GW yang didominasi oleh energi surya.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pemerintah mendorong pembangunan green super grid sepanjang sekitar 70 ribu kilometer, pengembangan biofuel B40–B50, bahan bakar pesawat ramah lingkungan, serta pemanfaatan hidrogen, energi nuklir, green ammonia, dan teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS).
Airlangga juga menekankan bahwa pengembangan green economy diarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi industri, seperti pengolahan pasir silika menjadi panel surya serta pemanfaatan mineral strategis untuk produksi baterai kendaraan listrik.
Lebih lanjut, transisi menuju ekonomi hijau diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 4,4 juta lapangan kerja baru hingga 2029, dengan porsi tenaga kerja hijau mencapai sekitar 3 persen dari total tenaga kerja nasional.
Peluang tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari teknisi energi terbarukan, pengelolaan lingkungan, hingga pengembangan smart city.
Untuk mendukung kesiapan sumber daya manusia, pemerintah melaksanakan Program Magang Nasional bagi 100 ribu lulusan perguruan tinggi dengan uang saku setara upah minimum.
“Pemerintah menyiapkan ekosistem dan arah kebijakan, sementara mahasiswa diharapkan membekali diri agar siap mengisi peran strategis dalam ekonomi masa depan,” ujar Airlangga.
Sejalan dengan hal tersebut, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menilai bahwa green jobs atau pekerjaan ramah lingkungan bukan lagi sekadar konsep, melainkan peluang nyata yang sudah hadir dan sangat dekat dengan dunia kampus.
Menurut gubernur yang akrab disapa Harum, mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu memiliki peran strategis dalam pengembangan ekonomi hijau.
“Di sektor energi surya, mahasiswa teknik dan vokasi dapat terlibat sebagai perancang maupun teknisi pemasangan panel surya di kampus, sekolah, hingga kawasan industri hijau,” katanya.
Sementara itu, di bidang efisiensi energi, lulusan ekonomi dan teknik berpeluang berkiprah sebagai auditor energi yang membantu gedung-gedung menekan konsumsi listrik dan biaya operasional, sekaligus mendorong tumbuhnya budaya hemat energi di masyarakat.
Pada sektor lingkungan dan kehutanan, green jobs berkembang melalui perhutanan sosial, restorasi mangrove, serta pengelolaan kawasan konservasi. Generasi muda dibutuhkan sebagai pendamping masyarakat, peneliti lapangan, hingga pengelola data berbasis teknologi.
Seminar nasional tersebut turut dihadiri Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Kemenko Perekonomian, Pembina YAPENTI-DWK Universitas Balikpapan, Rektor Universitas Balikpapan beserta jajaran, Chair of Governing Board Yayasan Mitra Hijau, serta perwakilan Action Network South East Asia.

